Tampilkan postingan dengan label Fadilah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fadilah. Tampilkan semua postingan

Mengirim Pahala Buat Orang Meninggal

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berdo'a dan mengahadiahkan pahala ibadah kepada orang yang telah meninggal dunia. Masalah ini seringkali menjadi titik perbedaan antara berbagai kelompok masyarakat. Dan tidak jarang menjadi bahan perseteruan yang berujung kepada terurainya benang persaudaraan.
Seandainya umat Islam ini mau duduk bersama mengkaji semua dalil yang ada, seharusnya perbedaan itu bisa disikapi dengan lebih dewasa dan elegan.
Kita akan mempelajari tiga pendapat yang terkait dengan masalah ini lengkap dengan dalil yang mereka pakai. Baik yang cenderung mengatakan tidak sampainya pahala kepada orang yang sudah wafat, atau yang mengatakan sampai atau yang memilah antara keduanya. Sedangkan pilihan anda mau yang mana, semua kembali kepada anda masing-masing.
1. Pahala Tidak Bisa Sampai
Orang mati tidak bisa menerima pahala ibadah orang yang masih hidup. Dalil atau hujjah yang digunakan adalah berdasarkan dalil:
"Yaitu bahwasannya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya" (QS. An-Najm:38-39)
" Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan" (QS. Yaasiin:54)
" Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya". (QS. Al Baqaraah 286)
Ayat-ayat diatas adalah sebagai jawaban dari keterangan yang mempunyai maksud yang sama, bahwa orang yang telah mati tidak bisa mendapat tambahan pahala kecuali yang disebutkan dalam hadits:
"Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah, anak yang shalih yang mendo'akannya atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya" (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa'I dan Ahmad).
Bila Anda menemukan orang yang berpendapat bahwa orang yang sudah wafat tidak bisa menerima pahala ibadah dari orang yang masih hidup, maka dasar pendapatnya antara lain adalah dalil-dalil di atas.
Tentu saja tidak semua orang sepakat dengan pendapat ini, karena memang ada juga dalil lainnya yang menjelaskan bahwa masih ada kemungkinan sampainya pahala ibadah yang dikirmkan / dihadiahkan kepada orang yang sudah mati.

2. Ibadah Maliyah Sampai Dan Ibadah Badaniyah Tidak Sampai
Pendapat ini membedakan antara ibadah badaniyah dan ibadah maliyah. Pahala ibadah maliyah seperti shadaqah dan hajji, bila diniatkan untuk dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal akan sampai kepada mayyit.
Sedangkan ibadah badaniyah seperti shalat dan bacaan Alqur'an tidak sampai. Pendapat ini merupakan pendapat yang masyhur dari Madzhab Syafi'i dan pendapat Madzhab Malik.
Mereka berpendapat bahwa ibadah badaniyah adalah termasuk kategori ibadah yang tidak bisa digantikan orang lain, sebagaimana sewaktu hidup seseorang tidak boleh menyertakan ibadah tersebut untuk menggantikan orang lain. Hal ini sesuai dengan sabda Rasul SAW:
"Seseorang tidak boleh melakukan shalat untuk menggantikan orang lain, dan seseorang tidak boleh melakukan shaum untuk menggantikan orang lain, tetapi ia memberikan makanan untuk satu hari sebanyak satu mud gandum" (HR An-Nasa'I).
Namun bila ibadah itu menggunakan harta benda seperti ibadah haji yang memerlukan pengeluaran dana yang tidak sedikit, maka pahalanya bisa dihadiahkan kepada orang lain termasuk kepada orang yang sudah mati. Karena bila seseorang memiliki harta benda, maka dia berhak untuk memberikan kepada siapa pun yang dia inginkan. Begitu juga bila harta itu disedekahkan tapi niatnya untuk orang lain, hal itu bisa saja terjadi dan diterima pahalanya untuk orang lain. Termasuk kepada orang yang sudah mati.
Ada hadits-hadits yang menjelaskan bahwa sedekah dan haji yang dilakukan oleh seorang hamba bisa diniatkan pahalanya untuk orang yang sudah meninggal. Misalnya dua hadits berikut ini :
Dari Abdullah bin Abbas ra bahwa Saad bin Ubadah ibunya meninggal dunia ketika ia tidak ada ditempat, lalu ia datang kepada Nabi SAW unntuk bertanya:" Wahai Rasulullah SAW sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang saya tidak ada di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat baginya ? Rasul SAW menjawab: Ya, Saad berkata:" saksikanlah bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya" (HR Bukhari).
Dari Ibnu Abbas ra bahwa seorang wanita dari Juhainnah datang kepada Nabi SAW dan bertanya:" Sesungguhnya ibuku nadzar untuk hajji, namun belum terlaksana sampai ia meninggal, apakah saya melakukah haji untuknya ? rasul menjawab: Ya, bagaimana pendapatmu kalau ibumu mempunyai hutang, apakah kamu membayarnya ? bayarlah hutang Allah, karena hutang Allah lebih berhak untuk dibayar (HR Bukhari)
3. Semua Jenis Ibadah Bisa Sampai
Do'a dan ibadah baik maliyah maupun badaniyah bisa bermanfaat untuk mayyit berdasarkan dalil berikut ini:
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdo'a :" Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudar-saudar kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami" (QS Al Hasyr: 10)
Dalam ayat ini Allah SWT menyanjung orang-orang yang beriman karena mereka memohonkan ampun (istighfar) untuk orang-orang beriman sebelum mereka. Ini menunjukkan bahwa orang yang telah meninggal dapat manfaat dari istighfar orang yang masih hidup.
a. Shalat Jenazah.
Tentang do'a shalat jenazah antara lain, Rasulullah SAW bersabda:
" Dari Auf bin Malik ia berkata: Saya telah mendengar Rasulullah SAW - setelah selesai shalat jenazah-bersabda:" Ya Allah ampunilah dosanya, sayangilah dia, maafkanlah dia, sehatkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburannya, mandikanlah dia dengan air es dan air embun, bersihkanlah dari segala kesalahan sebagaimana kain putih bersih dari kotoran, gantikanlah untuknya tempat tinggal yang lebih baik dari tempat tinggalnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya dan peliharalah dia dari siksa kubur dan siksa neraka" (HR Muslim).
b. Doa Kepada Mayyit Saat Dikuburkan
Tentang do'a setelah mayyit dikuburkan, Rasulullah SAW bersabda:
Dari Ustman bin 'Affan ra berkata:" Adalah Nabi SAW apabila selesai menguburkan mayyit beliau beridiri lalu bersabda:" mohonkan ampun untuk saudaramu dan mintalah keteguhan hati untuknya, karena sekarang dia sedang ditanya" (HR Abu Dawud)
c. Doa Saat Ziarah Kubur
Sedangkan tentang do'a ziarah kubur antara lain diriwayatkan oleh 'Aisyah ra bahwa ia bertanya kepada Nabi SAW:
" bagaimana pendapatmu kalau saya memohonkan ampun untuk ahli kubur ? Rasul SAW menjawab, "Ucapkan: (salam sejahtera semoga dilimpahkan kepada ahli kubur baik mu'min maupun muslim dan semoga Allah memberikan rahmat kepada generasi pendahulu dan generasi mendatang dan sesungguhnya -insya Allah- kami pasti menyusul) (HR Muslim).
d. Sampainya Pahala Sedekah Untuk Mayit
Dari Abdullah bin Abbas ra bahwa Saad bin Ubadah ibunya meninggal dunia ketika ia tidak ada ditempat, lalu ia datang kepada Nabi SAW unntuk bertanya:" Wahai Rasulullah SAW sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang saya tidak ada di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat baginya ? Rasul SAW menjawab: Ya, Saad berkata:" saksikanlah bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya" (HR Bukhari).
e. Sampainya Pahala Saum Untuk Mayit
Dari 'Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda:" Barang siapa yang meninggal dengan mempunyai kewajiban shaum (puasa) maka keluarganya berpuasa untuknya" (HR Bukhari dan Muslim)
f. Sampainya Pahala Haji Badal Untuk Mayit
Dari Ibnu Abbas ra bahwa seorang wanita dari Juhainnah datang kepada Nabi SAW dan bertanya:" Sesungguhnya ibuku nadzar untuk hajji, namun belum terlaksana sampai ia meninggal, apakah saya melakukah haji untuknya ? rasul menjawab: Ya, bagaimana pendapatmu kalau ibumu mempunyai hutang, apakah kamu membayarnya ? bayarlah hutang Allah, karena hutang Allah lebih berhak untuk dibayar (HR Bukhari)
g. Membayarkan Hutang Mayit
Bebasnya utang mayyit yang ditanggung oleh orang lain sekalipun bukan keluarga. Ini berdasarkan hadits Abu Qotadah dimana ia telah menjamin untuk membayar hutang seorang mayyit sebanyak dua dinar. Ketika ia telah membayarnya nabi SAW bersabda:
Artinya:" Sekarang engkau telah mendinginkan kulitnya" (HR Ahmad)
h. Dalil Qiyas
Pahala itu adalah hak orang yang beramal. Jika ia menghadiahkan kepada saudaranya yang muslim, maka hal itu tidak ada halangan sebagaimana tidak dilarang menghadiahkan harta untuk orang lain di waktu hidupnya dan membebaskan utang setelah wafatnya. Islam telah memberikan penjelasan sampainya pahala ibadah badaniyah seperti membaca Alqur'an dan lainnya diqiyaskan dengan sampainya puasa, karena puasa dalah menahan diri dari yang membatalkan disertai niat, dan itu pahalanya bisa sampai kepada mayyit. Jika demikian bagaimana tidak sampai pahala membaca Alqur'an yang berupa perbuatan dan niat.
Menurut pendapat ketiga ini, maka bila seseorang membaca Al-Fatihah dengan benar, akan mendatangkan pahala dari Allah. Sebagai pemilik pahala, dia berhak untuk memberikan pahala itu kepada siapa pun yang dikehendakinya termasuk kepada orang yang sudah mati sekalipun. Dan nampaknya, dengan dalil-dalil inilah kebanyakan masyarakat di negeri kita tetap mempraktekkan baca Al-Fatihah untuk disampaikan pahalanya buat orang tua atau kerabat dan saudra mereka yang telah wafat.
Tentu saja masing-masing pendapat akan mengklaim bahwa pendapatnyalah yang paling benar dan hujjah mereka yang paling kuat. Namun sebagai muslim yang baik, sikap kita atas perbedaan itu tidak dengan menjelekkan atau melecehkan pendapat yang kiranya tidak sama dengan pendapat yang telah kita pegang selama ini. Karena bila hal itu yang diupayakan, hanya akan menghasilkan perpecahan dan kerusakan persaudaraan Islam.
Sudah waktunya bagi kita untuk bisa berbagi dengan sesama muslim dan berlapang dada atas perbedaan / khilafiyah dalam masalah agama. Apalagi bila perbedaan itu didasarkan pada dalil-dalil yang memang mengarah kepada perbedaan pendapat. Dan fenomena ini sering terjadi dalam banyak furu` (cabang) dalam agama ini. Tentu sangat tidak layak untuk menafikan pendapat orang lain hanya karena ta`asshub atas pendapat kelompok dan golongan saja.
Selengkapnya...

La Tahzan Inna Allah ma'na

Ya Allah!
{Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta pada-Nya. Setiap waktu
Dia dalam kesibukan.}
(QS. Ar-Rahman: 29)
Ketika laut bergemuruh, ombak menggunung, dan angin bertiup
kencang menerjang, semua penumpang kapal akan panik dan menyeru: "Ya
Allah!"
Ketika seseorang tersesat di tengah gurun pasir, kendaraan menyimpang
jauh dari jalurnya, dan para kafilah bingung menentukan arah perjalanannya,
mereka akan menyeru: "Ya Allah!"
Ketika musibah menimpa, bencana melanda, dan tragedi terjadi,
mereka yang tertimpa akan selalu berseru: "Ya Allah!"
Ketika pintu-pintu permintaan telah tertutup, dan tabir-tabir
permohonan digeraikan, orang-orang mendesah: "Ya Allah!"
Ketika semua cara tak mampu menyelesaikan, setiap jalan terasa
menyempit, harapan terputus, dan semua jalan pintas membuntu, mereka
pun menyeru: "Ya Allah!"
Ketika bumi terasa menyempit dikarenakan himpitan persoalan hidup,
dan jiwa serasa tertekan oleh beban berat kehidupan yang harus Anda pikul,
menyerulah:"Ya Allah!"
Kuingat Engkau saat alam begitu gelap
gulita, dan wajah zaman berlumuran debu hitam
Kusebut nama-Mu dengan lantang di saat fajar menjelang,
dan fajar pun merekah seraya menebar senyuman indah

Pingin Lengkap Donwload Aja PDF nya
Link

Selengkapnya...

Mengenal Sastra Al-Qur'an

Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar Rasulullah Muhammad saw. Kemukjizatan tersebut bisa dilihat dari beberapa sisi. Terutama dalam masa-masa awal dakwah Nabi di Makkah, kemukjizatan Al-Qur’an sangat terlihat pada sisi-sisi sastranya. Kedahsyatan sastra Al-Qur’an saat itu bisa menyihir manusia baik yang akhirnya menjadi mukmin seperti Umar bin Al-Khaththab maupun yang akhirnya tetap kafir seperti Al-Walid bin Al-Mughirah. Tidaklah aneh jika Sayyid Quthb menyebutnya sebagai sihir Al-Qur’an yang tak terkalahkan. Tidaklah mengherankan apabila pada periode Makkah Al-Qur’an sangat menonjolkan sisi-sisi sastranya, sebab masyarakat Makkah saat itu sangat mahir dalam dunia sastra. Bahkan konon para penyair Makkah sudah terbiasa menggubah syair-syair yang indah secara spontan.

Kekuatan sastra Al-Qur’an merupakan faktor yang sangat penting bagi masuk Islamnya generasi awal dakwah Nabi. Hal ini berbeda dengan masuk Islamnya generasi-generasi selanjutnya, yang bisa jadi karena simpati mereka terhadap kesempurnaan syariat Islam, karena mereka menyaksikan bahwa Nabi selalu menang dan ditolong oleh Allah, karena terkesan dengan akhlaq Nabi, atau karena sebab-sebab lain yang barangkali melibatkan Al-Qur’an namun bukan sebagai faktor utama.

Bagaimana Al-Qur’an bisa mempengaruhi bangsa Arab kala itu sedemikian rupa? Bagaimana pula mereka, yang mukmin maupun yang kafir, sama-sama mengakui adanya kekuatan sihir Al-Qur’an? Sebagian pakar menjawab bahwa hal itu disebabkan olek kesempurnaan syariat yang ditetapkan oleh Al-Qur’an, pengabaran prediktif yang terbukti kebenarannya setelah beberapa tahun, atau kandungan ilmu-ilmu alam yang di kemudian hari terbukti benar. Sebetulnya tinjauan semacam itu hanyalah menetapkan kelebihan Al-Qur’an sesudah sempurnanya. Bagaimana dengan beberapa surat – meskipun sedikit – yang tidak mengandung tasyri’ hukum, kabar prediktif, maupun ilmu alam? Jika kita membaca ayat demi ayat yang mula-mula turun, kita akan dapati bahwa disana tidak ada tasyri’ hukum, ilmu alam – kecuali isyarat ringan mengenai penciptaan manusia dari segumpal darah -, ataupun pengabaran prediktif - yang baru ada setelah beberapa tahun kemudian seperti yang ada dalam surat Al-Ruum. Dengan demikian, tidak bisa tidak, sihir Al-Qur’an itu muncul dari alunan lafazh-lafazh Al-Qur’an itu sendiri, yang sangat indah dan memberikan kesan yang mendalam.

Dalam mengapresiasi sastra Al-Qur’an, setidaknya kita membutuhkan dua bekal. Pertama, penguasaan bahasa Arab untuk bisa memahami makna ayat-ayatnya. Kedua, ketajaman dan sensitivitas perasaan. Tanpa bekal kedua ini, kita akan mengalami kesulitan dalam menikmati keindahan dan kelezatan lantunan ayat-ayatnya. Berikut ini kita akan melihat beberapa bentuk gaya pengungkapan Al-Qur’an yang sangat tinggi nilai sastranya. Bentuk-bentuk yang akan disuguhkan terutama adalah bentuk-bentuk yang sederhana, yang bisa dirasakan oleh orang-orang yang awam dalam ilmu balaghah sekalipun. Hal ini karena kebanyakan bentuk-bentuk berikut bukanlah tema-tema yang biasa dikemukakan dalam buku-buku balaghah.

Persajakan

Hampir seluruh ayat-ayat makkiyah menyerupai untaian bait-bait syair, yang salah satu cirinya ialah adanya kesamaan qafiyah (rima). Sekedar sebagai contoh, kita bisa melihat surat Al-Naas, Al-Ikhlash, Al-Qadr, Al-Syams, dan Al-Qadr. Hal lain yang cukup menarik ialah bahwa dalam kebanyakan ayat pergantian sajak senantiasa dibarengi pergantian tema (kalau dalam prosa, mirip dengan pergantian paragraf).

Keseimbangan panjang ayat

Sekedar sebagai contoh, mari kita perhatikan surat Alam Nasyrah atau Al-Syams. Panjang ayat yang satu dan yang lainnya bisa dikatakan seimbang atau sama. Apabila untaian ayat-ayat tersebut dilantunkan, keseimbangan panjang ayat tersebut akan menghasilkan irama yang sangat nikmat.

Paralelisme dan keseimbangan irama antar ayat

Contoh : QS Al-Zalzalah ayat 7-8

فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره ×

ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره ×

Repetisi (perulangan)

Repetisi yang dimaksudkan disini mempunyai beberapa bentuk. Yang pertama ialah repetisi kata, seperti yang terdapat pada awal surat Al-Nazi’at, Al-Mursalat, dan Al-Waqi’ah.

Awal surat Al-Nazi’at :

و النشطات نشطا ×

و السبحت سبحا ×

فالسبقت سبقا ×

Awal surat Al-Mursalat :

فالعصفت عصقا ×

و النشرت نشرا ×

فالفرقت فرقا ×

Awal surat Al-Waqi’ah :

اذا وقعت الواقعة ×...×

اذا رجت الأرض رجا × و بست الجبال بسا ×

Bentuk yang lain ialah repetisi kalimat, seperti contoh berikut ini.

كلا سوف تعلمون × ثم كلا سوف تعلمون× (QS Al-Takatsur ayat 3-4)

فان مع العسر يسرا × ان مع العسر يسرا × (QS Alam Nasyrah ayat 5-6)

Bentuk-bentuk repetisi tersebut tidak hanya menyatakan penegasan dari sisi makna, namun juga menghasilkan keindahan dari sisi irama.

Kecermatan makna pada diksi (pilihan kata)

Sebagai contoh, kata Rabb, Ilah, dan lafzhul jalalah Allah, tidaklah bisa dipertukarkan begitu saja satu sama lain. Kata Rabb, misalnya, digunakan dalam konteks bahwa Allah ingin menunjukkan fungsi tarbiyahnya. Demikian seterusnya.

Contoh lain ialah penggunaan kata bani Adam, al-insaan, al-basyar, dan al-naas. Masing-masing dari kata tersebut tidak dapat dipertukarkan begitu saja karena masing-masing memiliki makna khasnya sendiri-sendiri.

Demikian juga antara kata bashara dan nazhara, antara al-‘afw, al-ghufraan, al-mushaafahah, dan al-kaffaarah, antara hamma dan araada, antara al-wudd (al-mawaddah), al-hubb, dan al-rahmah, antara Al-Bashiir, Al-‘Aliim dan Al-Khabiir, dan sebagainya.

Pemakaian huruf-huruf dalam kata yang sangat representatif terhadap makna atau suasana makna

Sebagai contoh, mari kita perhatikan surat Al-Naas. Rima dan dominasi huruf siin disana menggambarkan suasana hati yang diliputi rasa was-was. Demikian pula kalau kita perhatikan QS Al-Qiyamah ayat 26-30 berikut ini.

كلا اذا بلغت التراقى ×

( Sekali-kali tidak. Apabila nafas telah [mendesak] sampai ke kerongkongan)
و قيل من _ راق ×

(Dan dikatakan kepadanya: “Siapakah yang dapat menyembuhkan?”)
و ظن أنه الفراق ×

(Dan dia yakin bahwa itulah saat perpisahan)
و التفت الساق بالساق ×

(Saat bertaut betis [kiri] dengan betis [kanan])
الى ربك يومئذ المساق ×

(Kepada Rabb-mu pada hari itu kamu dihalau)

Rima dan dominasi huruf qaaf disitu menggambarkan suasana sesak di saat-saat sakaratul maut ! Bayangkan sebuah belati bergerigi tajam yang ditusukkan kedalam daging lalu ditarik kembali !!

Dari sini pula, kita menjadi paham betapa pentingnya menjaga makhraj dan sifat huruf saat membaca Al-Qur’an. Kesalahan dalam makhraj dan sifat huruf bukan hanya bisa menimbulkan perubahan makna namun juga bisa menghilangkan suasana maknanya sebagaimana yang kita lihat dalam beberapa contoh diatas.

Kontradiksi

Gaya bahasa kontradiksi banyak dipakai dalam Al-Qur’an, misalnya antara orang beruntung dan orang yang malang, antara mukmin dan kafir, antara surga dan neraka, dan sebagainya. Sebagai contoh, perhatikan kontradiksi yang disuguhkan mengenai orang yang menerima kitab dengan tangan kanan versus orang yang menerima kitab dengan tangan kiri atau dari belakang dalam QS. Al-Haaqqah ayat 19-37 dan QS Al-Insyiqaq ayat 7 - 15.

Sebagai contoh lain, mari kita perhatikan QS Al-Ghaasyiyah ayat 2 sampai 16 yang menyuguhkan kontradiksi antara wajah berseri orang-orang beriman dan wajah muram orang-orang kafir. Contoh-contoh yang lain bisa kita cari sendiri tersebar dalam lembaran-lembaran mushaf.

Gaya bahasa kontradiksi mempunyai efek yang kuat dan mendalam pada jiwa. Jiwa kita mengalami cita rasa yang berubah secara drastis, dari senang lalu tiba-tiba gembira, dari takut lalu tiba-tiba berharap, dan seterusnya.

Bentuk lain kontradiksi ialah seperti yang terlihat pada ayat-ayat sumpah yang dialektik. Perhatikan QS Al-Syams ayat 1-6 berikut ini.

والشمس وضحها × والقمر اذا تلها ×

والنهار اذا جلها × واليل اذا يغشها ×

والسماء وما بنها × والأرض وما طحها ×

Pada ayat-ayat diatas, kita melihat kontradiksi antara matahari dan bulan (ayat 1-2), antara siang dan malam (ayat 3-4), lalu antara langit dan bumi (ayat 3 sampai 4).

Keselarasan antara tempo dan makna atau suasana makna

Salah satu cara Al-Qur’an dalam menunjang makna yang ingin disampaikan ialah dengan menggunakan tempo yang sesuai. Mari kita perhatikan bagaimana Allah menyebut Hari Kiamat dalam Al-Qur’an. Disana kita menjumpai bahwa Hari Kiamat disebut dengan kata الطامة, الصاخة atau الحاقة . Irama kata-kata tersebut panjang melenakan sekaligus membuat penasaran ada apa sesudahnya, diikuti dengan sentakan atau hentakan yang berat (ditandai dengan tasydid). Irama tersebut menggambarkan peristiwa Hari Kiamat yang kapan datangnya tidak ada yang tahu disamping manusia memang seringkali terlena dan lupa akan datangnya hari yang pasti tersebut. Namun begitu ia datang, kehadirannya begitu mengagetkan, dahsyat, dan serentak.

Sebagai contoh lain, mari kita perhatikan awal-awal surat Al-Takwir dan Al-Infithar. QS Al-Infithar ayat 2-3:

اذا السماء انفطرت× واذا الكواكب انتثرت

Kata (انفطرت) dan (انتثرت) pada kedua ayat tersusun atas banyak huruf namun tidak mengandung bacaan madd sama sekali. Yang demikian itu menggambarkan bahwa peristiwa Hari Kehancuran berlangsung sangat cepat, sehingga mengagetkan setiap orang. Begitu ia datang, maka ia tidak bisa dibendung lagi.

Agar adil, mari kita lihat juga tempo lambat pada QS Al-Fajr ayat 27 –30.

يأيتها النفس المطمئنة ×

ارجعى الى ربك راضية مرضية ×

فا دخلى فى عبادى ×

و ادخلى جنتى ×

Ghunnah ( pada nun dan mim) dan madd (dengan alif atau ya) membuat tempo jadi lambat, yang menimbulkan nuansa tenang, kalem, dan lembut, seperti ucapan seseorang terhadap kekasihnya.

Dari pemahaman kita tentang tempo, kita pun akan sadar betapa pentingnya menjaga madd, tasydid, dan ghunnah saat membaca Al-Qur’an. Pengabaian terhadap hal-hal tersebut bukan hanya bisa menimbulkan perubahan makna namun juga bisa mengurangi suasana makna sebagaimana terlihat pada beberapa contoh diatas.

Penggambaran yang sangat hidup dan berkesan

Sayyid Quthb menyebut gaya bahasa ini sebagai التصوير الفنى (penggambaran artistik). Penggambaran merupakan instrumen utama dalam gaya bahasa Al-Qur’an. Ia berusaha menampilkan makna-makna abstrak dalam bentuk gambaran yang dapat diindera, nyata, hidup, aktual, berwarna-warni, dan bergerak. Diantara bentuk penggambaran yang banyak ditemui dalam Al-Qur’an ialah permisalan dan cerita dialog. Dengan adanya penggambaran, seseorang yang membaca atau mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an akan terlena dengan segenap imajinasinya, sehingga ia merasa benar-benar menyaksikan secara nyata atau bahkan merasa berada di tengah-tengah peristiwa yang ada, lupa bahwa yang dibaca atau didengar ternyata hanyalah susunan huruf atau lafazh saja. Tentang hal ini, Sayyid Quthb mengatakan,”Disini (dalam Al-Qur’an) ada kehidupan dan bukan kisah tentang kehidupan”.

Keselarasan antara obyek sumpah dan tema yang mengikutinya

Sebagai contoh, mari kita perhatikan surat Al-Dhuha. Disana Allah bersumpah dengan waktu dhuha dan waktu malam. Waktu dhuha yang terang dan indah, waktu malam yang gelap dan menimbulkan kesempitan jiwa. Ayat-ayat berikutnya mengetengahkan permulaan, kedukaan, keyatiman, kebingungan, dan kekurangan yang identik dengan waktu malam. Sebaliknya, akhiran, keridhaan, asuhan, petunjuk, dan kecukupan identik dengan waktu dhuha.

Beberapa contoh dari aspek-aspek balaghah yang lain

Dalam hal ini, kita hanya akan mencoba melihat gaya bahasa hiperbolik dan pengalihan kata ganti secara mendadak. (al-iltifaat), yang sudah sering dibahas dalam buku-buku balaghah.

Sebagai contoh bagi gaya bahasa hiperbolik, mari kita perhatikan QS Maryam ayat 4, yang melukiskan keadaan Nabi Zakaria yang sudah lanjut usia: … واشتعل الرأس شيبا …

اشتعل artinya telah menyala karena terbakar rata, berfungsi sebagai fi’il. الرأس artinya kepala, berfungsi sebagai fa’il. شيبا artinya uban, berfungsi sebagai tamyiz dimana yang menjadi mumayyaz ialah الرأس . (اشتعل الرأس شيبا) artinya ‘Kepalanya menyala karena putih ubannya’. Tatkala sampai pada اشتعل الرأس)), orang akan bertanya,”Kepalanya menyala?” Maka diucapkanlah (شيبا), “Ya, karena putih ubannya”. Susunan seperti ini menimbulkan efek hiperbolik. Berbeda halnya jika kita mengubahnya menjadi اشتعل شيب الرأس)) (Uban di kepalanya menyala). Yang terakhir ini tidak mesti berarti bahwa seluruh rambutnya beruban. Lain halnya dengan (اشتعل الرأس شيبا), yang mengesankan bahwa seluruh rambut di kepalanya telah memutih tanpa ada sehelai pun yang masih hitam.

Mengenai iltifaat, orang-orang yang tidak memahami keindahan dan keunikan sastra Arab telah meniupkan syubhat bahwa hal tersebut menunjukkan inkonsistensi Al-Qur’an dalam hal kata ganti atau sudut pandang Sang Penutur. Namun bagi mereka yang paham, iltifaat sebagai gaya bahasa Al-Qur’an justru telah mampu menimbulkan efek yang luar biasa. Diantara efek itu ialah menarik perhatian dan memberikan efek imajinasi yang hidup dan dinamis.



* * *

Karena keterbatasan halaman, contoh-contoh yang diberikan disini tidaklah terlalu banyak. Dengan contoh yang sedikit ini, diharapkan Anda dapat mencari sendiri contoh-contoh lainnya dalam Al-Qur’an. Selamat menikmati indahnya Al-Qur’an !

Selengkapnya...

Bulan Rojab, Saatnya Berlomba Berebut Pahala
قال النبى صلى الله عليه وسلم نه قال : "رأيت ليلة المغراج نهرا ماؤه احلي من الغسل وابرد من الثلج واطيب من المسك فقلت لجبرئيل : ياجبرئيل لمن هذا ؟ قال : لمن صلى عليك في رجب ".
Yang artinya : Nabi Muhammad SAW bersabda : "saya melihat di malam Mi’roj sebuah sungai yang airnya lebih manis dari pada madu, dan lebih dingin dari pada es, lebih wangi dari pada minyak misik, maka aku bertanya pada malaikat Jibril : ya . . . Jibril untuk siapa ini? lalu malaikat Jibril menjawab: itu semua diberikan kepada orang yang mau membaca sholawat kepada-mu ketika di bulan Rojab”.
Bulan Rojab termasuk salah satu bulan yang di dalam-nya Allah SWT memberikan kemulyaan dan menawarkan puluhan pahala bagi seseorang yang mau beribadah di dalam-nya. Selain bulan Sya’ban, Romadlon, Dhulhijjah, yang kita kenal sebagai bulan yang dimulyakan oleh Allah SWT (Ashurul Hurum), Bulan Rojab juga termasuk bulan dimana Allah SWT akan memanjakan hamba-hamba-Nya yang ingat akan fadhilah atau keutamaan dan pentingnya bulan Rojab dengan balasan pahala atau kenikmatan yang ia peroleh kelak di akhirat dan kebaikan di dunia. Ungkapan hadits di atas cukup jelas, dan nampak janji Allah SWT, bahwasannya beliau betul-betul ingin mengganjar dan memberikan balasan bagi hamba-Nya yang banyak melakukan amaliyah sholeh di bulan Rojab tersebut.

Disamping itu, pernah pada suatu ketika sahabat Anas bin Malik bertemu dengan sahabat Muadz bin Jabal. Beliau bertanya kepada sahabat Muadz, “dari mana engkau sahabat Muadz?” aku habis dari Rasullallah? sahabat Anas kembali bertanya: “lantas apa yang engkau dengarkan atau diperoleh dari Rasullallah? Aku mendengar bahwasannya Rasullullah bersabda: “barang siapa yang mengucapkan kalimat laa ilaa ha illallah dengan penuh keikhlasan, maka ia akan masuk surga, dan barang siapa yang puasa sehari di bulan Rojab karena mencari ridlo atau semata-mata karena Allah SWT, maka ia akan dimasukkan surga”. Kemudian aku (sahabat Anas) bertanya kepada Rasullallah, ya . . . Rasullallah! sesungguhnya sahabat Muadz bercerita kepada-ku (seperti yang diungkapkan di atas), lalu rasul menjawab, sodakta Muadz, benar Muadz !!!

Selain Allah SWT memberikan banyak pahala di bulan Rojab ini, kita juga patut tahu dan mengerti, bahwasannya rentetan peristiwa yang begitu spektakuler juga terjadi di bulan Rojab ini. Sebagaimama yang diriwayatkan Wahab bin Munabbih, beliau mengatakan bahwa awal terjadinya banjir terbesar sepanjang sejarah, yakni banjir yang menenggelamkan kaum Nabi Nuh ini terjadinya di bulan Rojab, dan juga peristiwa yang tidak asing lagi bagi kaum muslimin, yakni peristiwa Isro’-Mi’roj baginda nabi Muhammad SAW. Dimana beliau menyaksikan berbagai peristiwa Ghoibiyah, mulai dari menaiki kendaran super canggih dan paling cepat yang bernama Buroq, berjumpa nabi-nabi Allah mulai dari langit pertama sampai langit ke tujuh, menembus Arsy, melaju sampai ke sidrotul muntaha, dan terakhir bertemu dengan Allah SWT. Disamping itu, pada peristiwa Isro’-Mi’roj inilah nabi mendapatkan perintah untuk mengerjakan sholat lima waktu seperti yang kita lakukan saat ini.

Dari sekian pahala yang disediakan, serta rentetan peristiwa yang bisa kita ambil ibrah atau pelajaran, Allah juga memberikan banyak pilihan pahala bagi hamba-hamba-Nya dari amaliyah yang hendak mereka kerjakan seperti: memperbanyak membaca shalawat nabi, membaca istigfar seperti: رب اغفرلي وارحمني وتب علي sebanyak tujuh puluh kali sehabis sholat fardlu atau tepatnya setelah sholat Shubuh dan Maghrib seperti yang diamalkan para salafunah sholeh, hal ini juga mengingat, karena sebagian ulama’ tasawwuf mengatakan, bulan Rojab adalah bulan pengampunan dosa(استغفر الذنوب). Selain itu kita juga dianjurkan atau disunnahkan untuk berpuasa di bulan Rojab, hal ini tidak lain, karena puasa Rojab merupakan keistiqomahan yang tak pernah ditinggalkan oleh Salafuna Sholeh, sebagaiman yang pernah dikatakan Imam Mawardi di dalam kitab Al-Iqna’-nya: يستحب صوم رجب وشهبان (puasa di bulan Rojab dan Sya’ban itu disunnahkan).

Mengenai puasa di bulan Rojab ini, Rasullullah juga pernah bersabda dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah :
كل الناس جياع يوم القيامة الا نبياء واهليهم وصائم رجب وشعبان ورمضان فإنهم شباع لا جوع لهم ولا عطش
Yang artinya : “setiap manusia akan merasakan lapar kelak di hari qiyamat kecuali para nabi dan keluarganya dan orang yang mau berpuasa di bulan Rojab, Sya’ban, dan Romadlon, mereka semua akan merasa kenyang, tidak lapar dan tidak merasa haus”. Di hadits lain yang diriwayatkan oleh sahabat Anas juga diutarakan :
"في الجنة نهر يقال له رجب اشد بياضا من اللبن واحلى من العسل من صوم يوما من رجب شقاه الله تعالى من ذلك النهر ".
Artinya : “Di dalam surga terdapat sebuah sungai yang dikatakan bahwa surga tersebut bernama sungai Rojab, di mana ia lebih putih dari pada susu, lebih manis dari pada madu, barang siapa yang puasa sehari di bulan Rojab, maka Allah akan memberinya minum dari sungai tersebut”.
Selain itu, ada satu riwayat yang mengatakan, “Barang siapa yang puasa di hari pertama bulan Rojab, maka ia akan diampuni dosanya selama tiga puluh tahun, dan bagi yang puasa di hari kedua bulan Rojab, maka ia akan diampuni dosanya selama dua tahun, dan siapa yang berpuasa di hari ketiganya, maka ia akan diampuni dosanya selama satu tahun”.

Disamping mendapat pahala yang begitu besar dari Allah SWT seperti yang diutarakan di atas, puasa sunnah di bulan Rojab boleh dikata sebagai “pemanasan” atau latihan, karena sebentar lagi umat Islam akan menjalankan kewajibannya, yakni menunaikan ibadah puasa Romadlon. Lewat puasa bulan Rojab ini, setidaknya kita nanti tidak kaget atau merasa terbebani kala bulan Romadlon tiba. Jika dalam sholat fardhu, kita mengenal sholat Qobliyah-Ba’diyah, ada sholat sunnah Qobliyah Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya’, dan Shubuh, maka boleh jadi puasa bulan Rojab ini, puasa qobliyahnya bulan Romadlon.

Berbicara masalah kebaikan dan menyusun recana di dalam-nya, merupakan satu tindakan yang harus cepat kita lakukan, jangan sampai kita tunda esok hari bahkan lusa. Allah SWT menyuruh kita untuk berlomba-lomba dalam masalah kebaikan, kita harus ingat dengan kata-kata:
الدنيا مزرعة الأخرة(dunia itu ladangnya akhirat), jika yang kita tanam banyak, maka kita juga akan mendapatkan panenan yang banyak pula, begitu juga dengan sebaliknya. Nah, puasa sunnah, memperbanyak dzikir, sholawat nabi, dan ibadah sunnah lainnya yang ada di bulan Rojab ini merupakan pilihan tanaman baik yang bisa kita tanam. Dengan disiram air keimanan serta dikasih pupuk keikhlasan, insya Allah amaliyah sunnah di atas bisa kita kerjakan.

Wahai kaum muslimin . . . ! anggaplah bulan Rojab ini bulan terakhir dalam usia kita kali ini, meramal bulan Rojab yang akan datang, yang mana kita bisa hadir di dalam-nya, mungkin terlalu lancang bagi kita. Bulan Rojab adalah bulan dimana kita bisa menambah pundi-pundi pahala kita di akhirat, jangan sampai kita biarkan bulan Rojab ini lewat begitu saja, tanpa mengisinya dengan secuil amaliyah kepada Allah SWT. Bulan Rojab adalah bulannya “kompetisi’ bagi kaum muslimin untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya dari Allah SWT. Dan bulan Rojab adalah bulannya para Sholihin, para Abidin, dan tentunya bulannya kaum muslimin untuk mencari keberkahan dari Robbul a’lamin.(Fjr. Staf WWW.SALAFIYAH.ORG)
Selengkapnya...