Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan

ALI BIN ABI THALIB

Ali, khalifah Islam ke empat, sangat jenius. Hanya segelintir orang yang menerima anugerah watak kesatria, berpengetahuan luas, serta memiliki kesalehan, kejernihan pikiran dan daya imajinasi yang luar biasa. Karakter istimewa seorang menantu Nabi besar, yang dibesarkan dan dituntun oleh Nabi sendiri. Secara luas Ali memang diakui sebagai salah satu hasil tempaan Islam yang terbaik. Keberaniannya membuatnya menyandang julukan "Singa Tuhan". Seorang orientalis ternama berkata, "Pengetahuannya merupakan 'gerbang ilmu', ia ksatria, ramah, dan sabar sebagai penguasa, ia tokoh penting pada zamannya. Sebagian besar karya besar yang diprakarsai Umar untuk klesejahteraan rakyat, berasal dari nasehat Ali. Dia selalu siap menolong orang lemah dan mengganti rugi orang yang dirugikan; berbagai kisah tentang kegagahberaniannya masih selalu diungkapkan dengan penuh gairah di pasar-pasar di Cairo sampai New Delhi."
Ali bin Abi Thalib yang kunniyat-nya adalah Abul Hasan, dilahirkan pada tahun Gajah ke-13. Ia keponakan Nabi dan dari suku Bani Hasyim, yang dipercayai menjadi penjaga tempat suci Ka'bah, jabatan mulia sangat dihormati di seluruh Arab. Abi Thalib, yang berkeluarga besar, mempercayakan Ali dibesarkan dan dididik oleh Nabi, ia sudah dimulai sejak masa kanak-kanaknya. Kesempatan ini sangat membantu mengarahkan sifat baiknya yang luar biasa. Sumber-sumber sejarah yang dapat dipercaya mengemukakan bahwa Khadijah adalah wanita pertama, Abu Bakar adalah pria pertama, dan Ali anak-anak pertama yang memeluk agama Islam. Ali memerankan peranan penting pada waktu Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah. Ketika Abu Bakar menemui Nabi hijrah, dan mereka terus menerus diganggu dan dikejar-kejar orang Quraisy Makkah, Ali tetap tinggal di Makkah untuk menjaga sejumlah barang berharga yang dititipkan kepada Nabi, yang belakangan dikembalikan kepada para pemiliknya. Seperti diketahui, Muhammad mendapat kepercayaan penuh secara luas di kalangan warga Madinah, bahkan oleh musuh bebuyutannya, yang menitipkan barang-barang milik meraka kepada Nabi.
Diceritakan Ali yang dikenal besar nyalinya, waktu itu sempat tidur nyenyak di rumah Nabi yang dikepung musuh. Keesokan harinya, ia menyelesaikan semua persoalannya lalu berangkat ke Madinah.
Nabi memilih Ali, pemuda yang berbakat, untuk menjadi teman hidup putri kesayangan beliau yang cantik, Fatimah az-Zahra. Upacara pernikahan dilaksanakan dengan sangat sederhana yang pantas sekali menjadi teladan untuk masa-masa kemudiannya. Mas kawin yang diberikan Ali kepada Fatimah terdiri dari sehelai kain, beberapa barang tembikar, dan batu gerinda. Dari perkawinan itu lahir lima anak, yaitu tiga anak laki-laki, Imam Hasan, Husain dan Muhsin, serta dua anak perempuan, Zainab dan Ummi Kalsum.
Ali hidup sangat sederhana, ia hidup mencari nafkah dengan bekerja kasar. Kesederhanaannya antara lain dapat dilihat dari perabot rumah tangganya yang tidak bertambah, sedang isterinya melaksanakan semua tugas kerumahtanggaan dengan tangannya sendiri. Dalam hal daya tahan menghadapi kemiskinan, rasa peri kemanusiaan yang tinggi, semangat beramal, dan kesediaan mengorbankan kepentingan diri sendiri, pasangan Islam ini hampir tidak ada tandingannya dalam sejarah umat manusia. Kalau bepergian, mereka selalu lebih suka tidak membawa makanan, yang terdiri dari menu yang sederhana, daripada nantinya di rumah mereka terpaksa menolak peminta-minta.
Ali diminta oleh Nabi menyampaikan ajaran Islam kepada penduduk Yaman, hal yang sebelumnya gagal dilakukan para penyebar agama Islam lainnya. Sebaliknya dengan Ali, yang berhasil dengan baik sekali melakukannya dan suku bangsa Hamdan malahan langsung memeluk agama Islam pada hari kedatangannya di negeri itu. Kemahirannya berpidato, intelektualitas yang tinggi, dan kekuatan persuasifnya sangat membantu Ali mempopulerkan Islam di daerah-daerah yang tadinya bersikap bermusuhan itu.
Watak kesatriannya meninggalkan bekas yang tidak dapat dihapuskan dalam sejarah awal agama Islam. Sikapnya gagah berani dalam membela Islam dinilai luar biasa. Ia benar-benar telah membuktikan diri sebagai benteng paling tangguh bagi agama baru permusuhan yang pernah terus-menerus menerima sikap permusuhan dari berbagai kekuatan asing. Semasa hidup Nabi, Ali memainkan peranan penting di semua peperangn yang berlangsung di waktu itu. Hanya dalam perang Tabuk ia absen, ketika dengan berat hati ia harus tinggal di Madinah atas perintah Nabi. "Anda menghadapiku sama seperti Harun menghadapi Musa, kecuali bila tidak ada lagi Nabi setelah aku."
Ali pertama kali menunjukkan keberaniannya dalam perang Badar, ketika ia mengalahkan Walid dan Sheba, prajurit Arab yang terkenal, dalam pertempuran satu lawan satu. Ketika pembawa panji-panji Islam mati terbunuh dalam pertempuran di Ohad, ia dengan berani mengambil panji-panji itu lalu membunuh pembawa panji-panji musuh.
Karena kepahlawanannya yang luar biasa itu, orang menjulukinya "La Fata Illa Ali" (Tak ada pemuda seperti Ali), dua tahun kemudian, ia berhadapan dengan Amir ibn Abad Wudd, prajurit Arab yang sangat terkenal, yang dibunuhnya dalam suatu duel. Dari seluruh kegiatan perangnya, yang paling menonjol saat ia ambil bagian dalam perebutan benteng kota Khaibar, yang semula dianggap tidak dapat ditaklukan. Benteng itu diperkuat oleh orang-orang Yahudi dan sebelumnya dapat mempertahankan diri dari serangan-serangn tentara Muslimin, di bawah komando Abu Bakar dam Umar. Sehari sebelum benteng itu direbut, Nabi berkata, "Besok panji-panji Islam akan dipercayakan kepada seseorang yang akan merebut benteng itu. Orang tersebut mencintai Allah dan Nabinya, dan Allah serta Nabi juga mencintai dia." Keesokan harinya Ali dipanggil menghadap Nabi. Nabi menggenggamkan panji-panji di tangannya. Ali pun pergi melaksanakan perintah. Dengan menghancurkan pintu gerbangnya yang besar, yang sebelumnya tidak tergeserkan oleh kekuatan 12 laki-laki, benteng itu pun direbut dengan gemilang.
Rasa belas kasih kepada musuh yang dikalahkan adalah bagian dari watak kesatria. Beberapa kali Ali mengampuni orang-orang yang kalah perang. Di antaranya ketika dalam suatu aksi militer, seorang musuh jatuh dari kudanya ke tanah sampai pakaiannya terlepas seluruhnya, dan orang membiarkannya. Menurut Ibn Saad, suatu waktu seorang bernama Ibn Muljem, dibawa menghadap ke hadapannya. Ali ingat bahwa orang itu pernah menyerangnya, namun ia menyadari musuhnya itu kini sudah tak berdaya. Ia lalu memerintahkan anak buahnya aga memperlakukan Ibn Muljem dengan sebaik-baiknya.
Dalam masa pemerintahan dua khalifah yang pertama, Ali bertindak sebagai penasehat utama. Ia menyelesaikan segala masalah kenegaraan yang rumit, dan semua keputusan penting Khalifah diambil setelah berkonsultasi dengannya. Dalam segala hal nasehatnya selalu diminta, terutama mengenai masalah hukum dan agama yang orang menganggap paling dikuasainya. Pikiran-pikirannya dihargai tinggi oleh kawan maupun lawan. Setelah wafatnya Nabi, Ali mengkususkan diri kepada kegiatan memajukan kehidupan moral dan intelektual umat dan jarang ikut berperang. Ia juga turut mengurusi pekerjaan administrasi pemerintahan Umar.
Ali terpilih menjadi khalifah setelah mati syahidnya Usman, ketika dunia Islam menghadapi huru-hara, yang memuncak dengan dikepungnya Madinah oleh kaum perusuh. Penduduk Madinah, kota metropolitan itu, serta berbagai propinsi disekitarnya, berlomba-lomba menyampaikan sumpah setia kepadanya. Ia memang dianggap tokoh paling pantas untuk meduduki jabatan paling tinggi itu. Tapi Muawiyah, yang telah mengumpulkan kekutan besar disekelilingnya, menyatakan akan menuntut balas atas kematian Usman. Sebagai orang pandai, Muawiyah sadar akan kecilnya peluang yang terbuka baginya untuk meduduki jabatan tertinggi itu selagi Ali masih ada. Ini mendorongnya merencanakan suatu cara yang dapat memenangkan dukungan rakyat.
Di pihak Ali, ia menyadari bahwa para perusuh terlalu kuat untuk dihadapi dengan tindakan sembrono dan tergesa-gesa yang bisa berakibat pada kehancuran agama Islam. Kenyataan ini membuat Ali menahan diri. Ia tetap berkeinginan menghadapi para pengacau dengan tegas, tapi pada saat yang menguntungkan. Kepada Talha dan Zubair yang mendesak agar para pembunuh Usman dihukum dengan segera, Ali menjawab, "Saya sendiri tidak kurang inginnya melakukan hal yang sama, tapi saya tidak boleh bertindak demikian. Ini saat yang sangat kritis. Gangguan keamanan di pusat kerajaan dapat mendorong orang Badui dan orang asing berontak. Kalau ini terjadi, sekali lagi tanah Arab akan kembali ke zaman jahiliyah. Padahal, mereka berada di luar kontrol kita. Tunggu dan lihatlah sampai Allah menunjukkan kepada saya jalan keluar dari kesulitan ini." Sesungguhnya keadaan telah menjadi begitu kritis, dan suasana politik telah demikian eksplosifnya, sehingga setiap tindakan drastis yang diambil untuk menumpas para perusuh akan membahayakan keamanan negara. Namun, lawan-lawan Ali memutuskan menggunakan situasi itu untuk keuntungan mereka. Hampir semua sejarawan Muslim terkemuka menyatakan keraguannya tentang motif di belakang tindakan oposisi Muawiyyah. Mereka berkeyakinan, ada maksud kurang jujur di belakang oposisi Aisyah, Talha, dan Zubair dalam masalah Muawiyah ini.
Keinginan menuntut balas atas kematian Usman bukanlah motif sebenarnya dari ancaman Muawiya. Sedang Ali mengupayakan segala kemungkinan penyelesaian secara damai sebelum menyatakan perang kepada Muawiyah demi mempertahankan solidaritas nasional. Ditemani Talha dan Zubair, Aisyah yang sangat terguncang dengan wafatnya Usman, bergerak maju ke Basrah, tapi ia kemudian menyerah (656 M). Ketika diberitahukan gerakan Aisyah dan kawan-kawan, Ali langsung berangkat ke Basrah. Pada 12 Rajab tahun 36 H, Kufa memberi penyambutan besar-besaran kepada khalifah, termasuk pesta besar di istana. Tapi khalifah yang alim dan sederhana itu menolak pesta pora dan lebih suka berkemah di udara terbuka. Di Kufa, kedua pasukan itu berhadap-hadapan, tapi kemudian meletakkan senjata masing-masing karena Ali dan Aisyah ingin menghindari pertempuran dan bertekad mencari penyelesaian lewat perundingan.
Ini, sesungguhnya bertentangan dengan kepentingan kaum Saba, sebagian tentara Ali sendiri, yang berniat menyebarkan rasa permusuhan di antara kedua tentara. Tujuan akhirnya jelas: ingin meruntuhkan Islam. Maka pada suatu malam, ketika penyelesaian sudah hampir tercapai, kelompok Saba diam-diam menyerang tentara lawan, dan pecahlah pertempuran. Dalam keadaan demikian, Ali maupun pihak Kufa menganggap pihak lawannyalah yang telah memulai peperangan. Ali berusaha keras menentramkan para prajuritnya dan mengingatkan Zubair akan ramalan Nabi. Dengan cara ini Zubair dapat dibujuk untuk segera menarik tentaranya dari medan tempur. Malangnya, dalam perjalanan kembali ke Makkah, selagi dia sedang bersembahyang di suatu tempat, seorang Saba telah membunuhnya. Ketika seorang penjahat "mempersembahkan" kepala Zubair kepadanya, dengan geram Ali berkata, "Sampaikan kepada pembunuh Zubair kabar dari neraka." Akhirnya tentara yang dipimpin Aisyah dikalahkan. Khalifah sendiri datang menjenguk wanita terhormat itu, dan menanyakan keadaannya. Masih dengan rasa penghormatan, Aisyah dikirim kembali ke Madinah diiringkan sejumlah wanita terhormat. Bahkan khalifah sendiri mengantarnya cukup jauh.
Perhatian Khalifah Ali sekarang tertuju kepada Muawiyah. Gubernur Syria yang memberontak itu sedang menjadi ancaman bagi solidaritas dan keutuhan negara Islam. Sebagai seorang yang berperikemanusiaan, Ali dengan maksimal berusaha mengadakan penyelesaian secara damai dan menghindari pertumpahan darah kaum Muslimin. Tapi persyaratan damai yang disampaikan Muawiyah tidak masuk akal. Ali lalu menawarkan cara penyelesaian perselisihan dengan perkelahian satu lawan satu, tapi ditolak kaum Umayyah. Akhirnya pertempuran mati-matian antara dua tentara tak terelakan lagi. "Kaum pemberontak dikalahkan dalam tiga kali pertempuran beruntun yang menentukan," papar seorang sejarawan ternama. "Kaum Muawiyah sudah siap melarikan diri dari medan tempur, ketika tipu daya kaki tangan Amr, putra dari Aas, menyelamatkan mereka dari kepunahan. Dia memberikan kepada tentara sewaannya Al-Qur'an untuk dipasang di ujung tombak dan di pucuk tiang bendera mereka berteriak-teriak minta ampun. Tentara khalifah segera berhenti mengejar dan meminta agar mereka menyelesaikan perselisihan melalui pihak penengah (arbitrase).
Arbitrase itu berakhir dengan kekacauan. Penyebabnya, ditipunya Abu Musa Asy'ari, wakil Ali, oleh Amr bin al-Aas yang licik yang mewakili Muawiyah.
Pertentangan dalam pemerintah Islam sendiri telah melahirkan sekelompok orang fanatik yang dinamakan Khariji, yang terbukti menjadi ancaman bagi pemerintahan Ali. Mereka menyebarkan kekacauan di seluruh kerajaan khalifah, membunuh orang-orang yang tidak berdosa dan memaksa penduduk mengikuti fanatismenya. Pada mulanya khalifah mencoba mengatasi kaum fanatik Khariji dengan kesabaran luar biasa. Tapi akhirnya terpaksa Ali menggunakan tangan besi dan mereka ditindas melalui pertempuran yang dahsyat.
Lalu orang Kerman dan Parsi memberontak terhadap kekuasaan khalifah. Ali mengirim Zaid bin Abiha ke sana, dan Zaid berhasil menumpas pemberontakan serta mengembalikan ketentraman. Sebagai ganjarannya, Ali bukannya menghukum para pemberontak, tapi sebaliknya memperlakukan mereka dengan lemah lembut. Sepantasnya memang bila orang Parsi menjulukinya 'Nusyirwan': orang yang adil.
Kembli pada pemberontakan orang Khariji (fanatik), yang pada akhirnya Ali sendiri yang menjadi korban, tiga orang Khariji merencanakan membunuh tiga orang. Yaitu Ali, Muawiyah, dan Amr bin al-Aas. Ibn Maljem yang diserahi membunuh khalifah menyerangnya ketika Ali hendak bersembahyang. Tapi khalifah yang arif dan adil itu memerintahkan orang-orangnya agar memperlakukan si pembunuh dengan penuh kebajikan.
Salah satu putra Islam terbesar itu meninggal pada usia 63 tahun. Pemerintahannya berlangsung selama 4 tahun 9 bulan dan ia ditakdirkan menjalankan kemudi pemerintahan Islam melalui masa-masa paling kritis berupa pertentangan antar kelompok. Ia sangat sederhana, saleh, rendah hati dan penuh kebajikan. Dalam dirinya tersimpan nilai-nilai kemanusiaan yang besar, senang membantu orang miskin, dan suka memaafkan musuh yang bahkan telah mengancam jiwanya. Kadang-kadang kebajikan Ali muncul sebagai kelemahannya juga. Kekuasaan dan keagungan keduniawian tidaklah menarik dirinya. "Demikianlah, ia telah wafat," kata seorang penulis kenamaan, Kolonel Osborn, "dalam usia yang sebaik-baiknya, seorang Muslimin yang terbaik pernah hidup." Lemah lembut dan berperikemanusiaan, siap memberi pertolongan kepada yang lemah dan menderirta, kehidupanya telah diabdikannya demi tegaknya Islam.
Ali terpilih menjadi khalifah ketika Islam banyak digoncang berbagai gejolak. Diberkahi keberanian luar biasa tapi dengan pertimbangan yang dalam, ia berperang meredam gelombang pemberontakan yang hendak menghancurkan dasar-dasar negara Islam pertama itu. Dalam awal sejarah Islam, tidak ada orang yang dapat menyamainya dalam sikap kesatria. Ia dikenal dengan julukan 'Singa Tuhan'. Keberaniannya telah menjadi seperti dongengan, yang masih juga diungkapkan di seluruh dunia Islam.
Ali sangat jenius. Dibesarkan oleh Nabi Muhammad dan berkesempatan menemani Nabi selama sekitar 30 tahun, Ali menempati posisi yang unik sebagai intelektual terbesar di antara para sahabat Nabi. Sebagaimana Aristoteleles, ia juga dikenal sebagai bapak ilmu pengetahuan Islam. Di dalam kitab Izalat ul-Khifa, Shah Waliullah atas nama Imam Hambali memuji intelektualitas Ali yang tinggi sebagai akibat didikan yang diberikan Nabi. Kenyataan ini dikuatkan Nabi: "Aku menjadi gudang ilmu pengetahuan, sedangkan Ali menjadi gerbangnya." Ia seorang Hafidz Qur'an dan penafsir berkualitas tinggi. Bersama Ibn Abbas, Ali dianggap sebagai ahli terbesar Al-Qur'an. Selama enam bulan pertama kekhalifahan Abu Bakar, ia mengatur bab-bab Al-Qur'an menurut urut-urutan waktu turunnya wahyu.
Dalam bukunya yang terkenal Al Fibrits , Ibn Nadim menjelaskan bahwa Ali sangat berhati-hati dalam menyaring laporan tentang tradisi sedemikian rupa, sehingga yang dilaporkan dikumpulkannya itu diterima luas sebagai suatu yang otentik. Ali juga seorang Mujtahid dan ahli hukum pada zamannya, malahan yang terbesar di segala zaman. Ia mampu menyelesaikan semua masalah rumit dan yang paling musykul sekalipun. Bahkan yang berkepribadian tinggi seperti Umar dan Aisyah menyampaikan berbagai kesulitan yang mereka hadapi kepadanya. Semua sekolah agama menganggapnya sembagai bapak mistik Islam. Ahli mistik terkenal, Junaid Baghdadi, mengakui Ali memiliki otoritas paling tinggi dalam ilmu mistik. Menurut Shah Waliullah dalam Izalat-ul-Khifa , Ali menghabiskan banyak waktunya untuk mistik, sebelum ia terpilih sebagai Khalifah. Ia seorang dari dua orator terbesar pada aawal masa Islam, di samping Abu Bakar. Menurut Ibn Nadim, Ali juga peletak dasar tata bahasa Arab.
Tak disangsikan lagi, Ali adalah ahli hukum terbesar pada masa permulaan Islam. Dikisahkan, pada suatu waktu dua wanita bertengkar memperebutkan seorang bayi laki-laki, masing-masing menyatakan bayi itu anaknya. Kedua perempuan itu lalu dibawa menghadap Ali. Sesudah mendengar penjelasan masing-masingnya, ia memerintahkan agar bayi itu dipotong-potong. Mendengar hal ini, seorang di antara wanita tadi langsung menangis dan dalam linangan air mata memohon Khalifah menyelamatkan si bayi dan dialah ibu si bayi yang sesungguhnya! Ali langsung memberikan bayi itu kepada ibunya yang sejati, dan menghukum wanita yang seorang lagi.
Umar mengomentari Ali sebagai berikut: "Semoga Tuhan melindungi; kita boleh saja menghadapi isu yang kontroversial, tapi Ali selalu bisa menyelesaikannya." Menurut Abdullah ibn Mas'ud, Ali memiliki kemampuan memberikan pertimbangan yang baik sekali. Nabi sendiri mempercayai berbagai pertimbangan yang disampaikan Ali, dan mengangkatnya sebagai khadi di Yaman. Nabi memerintahkan Ali agar tidak menyampaikan keputusannya sebelum mendengar kedua pihak yang bersengketa. Bahkan lawan-lawannya, antara lain Muawiya, menyampaikan berbagai masalah rumit dan meminta pertimbangannya. Sejarah permulaan Islam penuh dengan pertimbangan yang bersifat ilmiah yang pernah disampaikannya.
Sejarawan masa itu dan sesudahnya menghargai tinggi kepandaian dan kebajikan Ali. Sejarawan ternama Masudi berkata, "Jika nama agung sebagai Muslim pertama, sebagai sahabat Nabi ketika hijrah dan yang terpercaya dalam perjuangan menegakkan iman, sahabat akrab Nabi dalam kehidupan dan bagi keluarganya; ilmu yang dimiliki benar-benar disemangati ajaran Nabi dan ajaran Al-Qur'an; yang menjauhkan diri dari berbagai keinginan pribadi serta tegar dalam menjalankan keadilan; yang jujur, cinta kepada kesucian dan kebenaran; yang memiliki pengetahuan yang dalam tentang hukum dan ilmu, yang merupakan sebagian dari sifat-sifatnya yang ulung; semua orang tentu harus menganggap Ali sebagai Muslim yang paling terkemuka." Tokoh ternama seperti Syah Waliullah, dalam bukunya yang terkenal Izalat-ul-Khifa , pernah membicarakan panjang lebar sifat-sifat Ali yang agung. Dia berkesimpulan, kekesatriaan dan kekuatan watak, kemanusiaan dan keikhlasan hati, yang menjadi ciri-ciri orang besar, semuanya dimiliki Ali.
Sejarawan lain memperkuat dengan: "Contoh kesederhanaan yang diwariskan Nabi kepada empat pengganti beliau tidak ada taranya dalam sejarah. Raja-raja dari kerajaan yang luas itu melaksanakan kehidupan seperti para pertapa dan tidak pernah ingin memanfaatkan kekayaan yang bergelimang di hadapannya. Istana dan jubah kerajaan ada pada mereka, tapi keempat raja itu, jasmaniah maupun rohaniah, sangat bangga dengan gubuk tempat tinggalnya dan pakaian lusuh yang mereka pakai. Cara mereka hidup jauh lebih sederhana daripada rakyatnya. Sama seperti rakyat biasa, mereka ke masjid tanpa pengawalan, malahan mereka tidak mempunyai polisi atau pengawal pribadi sama sekali. Sebaliknya, untuk kesejahteraan negara dan rakyat, keempat khalifah begitu besar perhatiannya sehingga soal kecil saja yang timbul di daerah perbatasan yang jauh segera menjadi perhatian mereka. Sepenuh hati dan jiwanya mereka abdikan mencintai Allah, dan seluruh tenaga mereka dibaktikan melayani rakyat."
Sumber: SERATUS MUSLIM TERKEMUKA, Jamil Ahmad


Selengkapnya...

Ulama Nusantara

Sye ikh Ha mza h al -Fa ns uri
Sasterawan sufi agung
SYEIKH Hamzah al-Fansuri telah banyak dibicarakan orang, namun tidak dapat
dinafikan perkara-perkara baru sentiasa ditemui oleh para peneliti. Pada
mukadimah ini saya nyatakan bahawa tanpa diketahui siapakah yang pertama
mengkhayal rupa tokoh agung sufi Nusantara itu, sehingga ditemui gambar
imaginasi beliau.
Gambar Syeikh Hamzah al-Fansuri dapat dipastikan sebagai gambar imaginasi,
kerana pada zaman beliau memang belum ada kamera. Sebenarnya ia berlaku bukan
pada Syeikh Hamzah al-Fansuri saja, tetapi juga terjadi pada ulama-ulama
lainnya, termasuk Imam al-Ghazali, Syeikh 'Abdul Qadir al-Jilani, Syeikh
Nuruddin ar-Raniri, Wali Sembilan dan lain-lain. Sungguh pun dipastikan gambar
Syeikh Hamzah al-Fansuri adalah gambar imaginasi, namun dalam artikel ini
disiarkan juga, dan ia merupakan pertama kali disiarkan dalam media cetak secara
meluas.
Hampir semua pengkaji yang membicarakan tokoh ulama ini pada zaman moden, selalu
merujuk kepada karya-karya Prof. Dr. Syed M. Naquib al-Attas. Barangkali dunia
memang mengakui bahawa beliaulah orang yang paling banyak memperkenalkan Syeikh
Hamzah al-Fansuri ke peringkat antarabangsa. Walau bagaimanapun apabila kita
membaca keseluruhan karya Prof. Dr. Syed M. Naquib al-Attas yang membicarakan
Syeikh Hamzah al-Fansuri, bukanlah bererti kita tidak perlu mentelaah karyakarya
lain lagi, kerana apabila kita mentelaah karya-karya selainnya, terutama
sekali yang masih berupa manuskrip, tentu sedikit sebanyak kita akan menemukan
perkara-perkara baru yang belum dibicarakan. Karya terkini tentang Syeikh Hamzah
al-Fansuri ialah buku yang diberi judul Tasawuf Yang Tertindas Kajian
Hermeneutik Terhadap Karya-Karya Hamzah Fansuri. Buku setebal 444 halaman itu
dikarang oleh Dr. Abdul Hadi W.M. dan terbitan pertama oleh Penerbit Paramadina,
Jakarta, 2001. Sama ada karya-karya Prof. Dr. Syed M. Naquib al-Attas mahupun
karya Dr. Abdul Hadi W.M., sedikit pun tiada menyentuh gambar Syeikh Hamzah al-
Fansuri seperti yang tersebut di atas.
Donwload Selengkapnya...

Shafiyah binti Abdul Mutthalib

Muslimah pertama dalam Islam yang menewaskan orang musyrik dengan tangannya, dalam peperangan menegakkan agama Allah. [kata ahli-ahli sejarah]

Dia wanita bangsawan yang berpikiran murni dan memiliki karakter tinggi. Orang-orang pandai menilainya dengan seribu macam penilaian. Sebagai wanita sahabat yang gagah berani, tercatat dalam sejarah Islam. Dia muslimah pertama yang menewaskan orang musyrik dengan tangannya dalam perang menegakkan agama Allah. Dia wanita pertama yang muncul menunggang kuda dan menghunus pedang dalam perang fi sabilillah.

Siapa sesungguhnya srikandi muslimah ini?

Dia adalah SHAFIYAH BINTI ABDUL MUTTHALIB AL HASYIMIYAH AL QURASYIYAH, bibi Muhammad bin Abdul Mutthalib, Rasulullah SAW. Kemuliaan adalah melengkupi Shafiyah dari berbagai pihak. Ayahnya Abdul Mutthalib bin Hasyim, kakek Nabi SAW, seorang pemimpin Quraisy yang dipatuhi. Ibunya Halah binti Wahab, saudaranya Aminah binti Wahab ibunda Rasulullah SAW. Suaminya yang pertama Al Harits bin Harb, saudara Abu Sufyan bin Harb, pemimpin Bani Umayyah.

Al Harits wafat ketika Shafiyah masih menjadi isterinya. Suaminya yang kedua Al Awwam bin Khuwailid, saudara laki-laki Khadijah binti Khuwailid, pemimpin wanita Arab pada masa jahiliyah, dan Ummul Mu'minin pertama dalam Islam. Puteranya Zubair bin Awwam, pembantu khusus (Hawariy) Rasulullah SAW.

Kemuliaan turunan yang bagaimanakah lagi yang hendak diraih orang sesudah itu selain kemuliaan Iman? Suaminya kedua meninggalkan seorang putera baginya. Anak itu ditinggal wafat oleh bapaknya ketika kecil dan diberinya nama “Zubair”. Zubair dibesarkan Shafiyah dengan pendidikan yang keras. Dia mengajar anaknya kepintaran berkuda dan berperang. Permainannya lomba memanah dan memperbaiki busur. Shafiyah biasa meninggalkan anaknya di tempat-tempat angker, dan membawanya ke tempat-tempat berbahaya. Bila dilihatnya Zubair mundur maju atau ragu-ragu, dipukulnya. Sehingga pada suatu ketika Shafiyah ditegur oleh pamannya.

Kata paman, “Engkau memukul dengan pukulan kebencian, bukan dengan pukulan seorang ibu….”

Shafiyah menjawab dengan bersajak.

“Siapa mengatakan aku memukul benci, sungguh dusta,

Aku memukul supaya pintar,

Tangguh menghadapi musuh,

Pulang dengan kemenangan.”

Kemudian Allah mengutus Nabi-Nya membawa agama yang hak, memberi kabar takut dan kabar gembira. Allah memerintahkan Nabi supaya memulai dakwah dalam keluarga terdekat. Maka dikumpulkannya segenap bani Abdul Mutthalib, pria, wanita, orang tua dan anak-anak.

Nabi berpidato di hadapan mereka :

“Hai, Fatimah binti Muhammad….!

“Hai, Shafiyah binti Abdul Mutthalib…!

Hai, Bani Abdul Mutthalib….!

“Aku tidak dibekali Allah untuk kalian, kecuali mengajak kalian iman kepada Allah dan mempercayai kerasulanku…”

Setelah selesai berpidato, ada di antara mereka yang segera menerima dakwah (ajakan) beliau, ada yang ragu-ragu, dan ada pula yang menolak mentah-mentah. Shafiyah termasuk kelompok pertama yang menerima dan percaya.

Karena itu lengkaplah sudah terkumpul pada pribadi Shafiyah seluruh unsur kemuliaan, yaitu unsur-unsur keturunan sebagai bangsawan tinggi, disempurnakan dengan unsur ketinggian Islam.

Sejak itu Shafiyah dan puteranya membaur ke dalam kelompok cahaya yang terang benderang. Dia turut berjuang mati-matian, dan bekerja keras bersama-sama kaum muslimin kelompok pertama menegakkan panji-panji dakwah menghadapi tantatangan kaum Quraisy, baik berupa agitasi, intimidasi, dan segala macam teror yang dilancarkan Quraisy.

Ketika Allah mengizinkan Nabi-Nya dan orang-orang mukminin hijrah ke Madinah, Shafiyah yang bangsawan Bani Hasyim ini pun turut pula berhijrah. Dengan ikhlas ditinggalkannya kota Makkah dengan kenangan-kenangan indah, kebangsawanan, kemegahan dan kebanggaan. Dihadapkannya mukanya ke Madinah sebagai muhajirin, pindah dari agama sesat nenek moyang ke agama Allah dan Rasul-Nya.

Kini Sayyidah (nyonya) yang agung ini memasuki usia keenam puluh dalam hidupnya yang panjang dan penuh tantangan sebagai srikandi. Dia telah turut berperan di berbagai medan jihad seperti yang selalu disebut-sebut oleh sejarah sebagai cerita yang menabjubkan dan penuh sanjungan.

Di halaman yang terbatas ini cukuplah kiranya kami ketengahkan peranan beliau yang tidak saja memperlihatkannya sebagai pendekar gagah, tetapi juga muslimah yang sabar, berhati teguh dan beriman kuat, yaitu dalam perang Uhud .

Dalam perang Uhud, Shafiyah turut berperang bersama-sama tentara muslimin, bergabung dalam pasukan para wanita. Tugasnya mengangkat air, menyediakan anak panah, dan memperbaiki busur. Di samping itu Shafiyah mempunyai tujuan atau alasan khusus. Dia ingin merekam seluruh jalannya pertempuran ke dalam ingatannya yang kuat.

Memang tidak mengherankan kalau dia mempunyai keinginan pribadi seperti itu. Mengapa tidak? Karena di medan tempur terdapat anak saudaranya, Muhammad Rasulullah, terdapat saudaranya Hamzah bin Abdul Mutthalib, yang dijuluki “Asadullah” (singa Allah), dan ada pula anak kandungnya Zubair bin Awwam, yang berpredikat “Hawary Nabiyallah” (pembantu khusus Nabi Allah). Dan yang lebih mendasar daripada itu semua bahwa yang diikutinya itu menentukan perjalanan agama Islam, yang dianuti dengan sungguh-sungguh oleh Shafiyah.

Ketika memperhatikan jalannya pertempuran, Shafiyah melihat kaum muslimin terdesak hingga terpencar-pencar jauh dari Rasulullah. Hanya sedikit jumlah mereka yang tinggal bertahan bersama beliau. Sementara itu kaum musyrikin menyerbu dengan pesatnya, sehingga hampir tiba dekat Rasulullah dan mereka hampir membunuh beliau. Secepat kilat Shafiyah melemparkan tempat air yang dibawanya, lalu dengan tangkas dia melompat bagaikan singa betina sedang melatih anaknya. Direbutnya pedang seorang muslim yang lari ketakutan. Kemudian ia maju menyerang barisan musuh dengan pedang terhunus dan menebas setiap musuh yang berada di hadapannya. Dia berteriak kepada kaum muslimin, “Pengecut kalian! Mengapa kalian tinggalkan Rasulullah?” katanya.

Ketika Nabi melihat Shafiyah maju ke tengah medan, beliau kuatir kalau Shafiyah tak kuat menahan sedih menemukan mayat saudaranya Hamzah bin Abdul Mutthalib yang tewas di tengah medan pertempuran. Lalu beliau memberi isyarat kepada Zubair. “Cegah ibumu, Zubair….! Cegah ibumu…! Kata beliau memerintahkan Zubair menyuruh ibunya kembali.

Zubair segera berpacu mengejar ibunya. “Ibu..! Kembali..! Ibu…Kembali!” teriak Zubair memanggil ibunya.

“Pergi kau..! Tidak ada ibu-ibuan..!” jawab Shafiyah.

“Rasulullah memerintahkan ibu kembali..! kata Zubair pula.

Mengapa? Aku mendengar mayat saudaraku dirusak binasakan mereka. Padahal saudaraku tewas fi sabilillah…! Kata Shafiyah.

“Biarkan ibumu, hain Zubair!” kata Rasulullah.

Zubair membiarkanya ibunya pergi.

Ketika pertempuran telah usai, Shafiyah berdiri dekat mayat saudaranya. Didapatinya perut Hamzah terbelah. Jantungnya diambil orang. Hidung dan kupingnya sudah dipotong. Mukanya rusak tak dapat dikenali.

Menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu, Shafiyah memohon ampun bagi Hamzah. Kemudian berkata : “Dia tewas fi sabilillah, Aku ridha dengan keputusan Allah atasnya, Demi Allah! Aku akan tetap sabar, dan menyerahkan semua ini kepada Allah, serta memohonkan pahala untuknya…”

Itulah peran Shafiyah binti Abdul Mutthalib dalam perang Uhud. Semoga Allah meridhai Shafiyah binti Abdul Mutthalib. Dia merupakan contoh tunggal bagi wanita muslimah. Dia mengembangkan kepribadian sendiri, lalu diperkuatnya kepribadian itu. Dia tidak luput dari berbagai macam kesulitan, tetapi senantiasa mengatasinya dengan cara yang paling baik, yaitu meneguhkan hati (sabar) serta iman yang kokoh.
Selengkapnya...

Sa'ad Bin Abi Waqqash - Singa yang Menyembunyikan Kukunya

Berita yang datang secara beruntun menyatakan serangan licik yang dilancarkan oleh angkatan bersenjata Persi terhadap Kaum Muslimin, amat menggelisahkan hati Amirul Mu'minin Umar bin Khatthab... Disusul kemudian dengan berita, tentang pertempuran Jembatan, di mana empat ribu orang pihak Kaum Muslimin gugur sebagai syuhada dalam waktu sehari, begitu pun pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang Irak terhadap perjanjian-perjanjian, yang mereka perbuat, serta ikrar yang telah mereka akui..., menyebabkan khalifah mengambil keputusan untuk pergi dan memimpin sendiri tentara Islam dalam perjuangan bersenjata yang menentukan, melawan Persi.

Bersama beberapa orang shahabat dan dengan menunggang kendaraan, berangkatlah ia dengan meninggalkan Ali Karamallahu Wajhah di Madinah sebagai wakilnya. Tetapi belum berapa jauh dari kota sebagian anggota rombongan berpendapat dan mengusulkan agar ia kembali dan memilih salah seorang di antara para shahabat untuk melakukan tugas tersebut. Usul ini diprakarsai oleh Abdurrahman bin 'Auf yang menyatakan bahwa menyia-nyiakan nyawa Amirul Mu'minin dengan cara seperti ini, sementara Islam sedang menghadapi hari-harinya yang menentukan, adalah perbuatan yang keliru. Umar pun menyuruh Kaum Muslimin berkumpul untuk bermusyawarah dan diserukanlah "Asshalata jami'ah"; sementara Ali dipanggil datang; yang bersama beberapa orang penduduk Madinah berangkat menuju tempat perhentian Amirul Mu'minin. Akhirnya tercapailah persetujuan sesuai dengan apa yang diusulkan oleh Abdurrahman bin 'Auf, dan peserta musyawarah memutuskan agar Umar kembali ke Madinah dan memilih seorang panglima lain yang akan memimpin peperangan menghadapi Persi. Amirul Mu'minin tunduk pada keputusan ini, lalu menanyakan kepada para shahabat, siapa kiranya orang yang akan dikirim ke Irak itu. Mereka sama tertegun dan berfikir.

Tiba-tiba berserulah Abdurrahman bin 'Auf, "Saya telah menemukannya." "Siapa dia?" tnya Umar. Ujar Abdurrahman, "Singa yang menyembunyikan kukunya, yaitu Sa'ad bin Malik az Zuhri!" Pendapat ini disokong sepenuhnya oleh Kaum Muslimin, dan Amirul Mu'minin meminta datang Sa'ad bin Malik az-Zuhri yang tiada lain Sa'ad bin Abi Waqqash. Lalu diangkatnya sebagai Amir atau Gubernur Militer di Irak yang bertugas mengatur pemerintahan dan sebagai panglima tentara.

Nah, siapakah dia singa yang menyembunyikan kukunya itu? Dan siapakah dia yang bila datang kepada Rasulullah ketika berada di antara shahabat-shahabatnya; akan disambutnya dengan ucapan selamat datang sambil bergurau, sabdanya: "Ini dia pamanku...! Siapa orang yang punya paman seperti pamanku ini?" Itulah dia Sa'ad bin Abi Waqqash! Kakeknya ialah Uhaib, putera dari Manaf yang menjadi paman dari Aminah ibunda dari Rasulullah saw.

Sa'ad masuk Islam selagi berusia l7 tahun, dan keislamannya termasuk yang terdahulu di antara para shahabat. Hal ini pernah diceritakannya sendiri, katanya, "Pada suatu saat saya beroleh kesempatan termasuk tiga orang pertama yang masuk Islam." Maksudnya bahwa ia adalah salah seorang di antara tiga orang yang paling dahulu masuk Islam.

Maka pada hari-hari pertama Rasulullah menjelaskan tentang Allah Yang Esa dan tentang Agama baru yang dibawanya, dan sebelum beliau mengambil rumah al-Arqam untuk tempat pertemuan dengan shahabat-shahabatnya yang telah mulai beriman, Sa'ad bin Abi Waqqash telah mengulurkan tangan kanannya untuk bai'at kepada Rasulullah saw.

Sementara itu buku-buku tarikh dan riwayat menceritakan kepada kita bahwa ia termasuk salah seorang yang masuk Islam bersama dan atas hasil usaha Abu Bakar. Boleh jadi ia menyatakan keislamannya secara terang-terangan bersama orang-orang yang dapat diyakinkan oleh Abu Bakar, yaitu Utsman bin 'Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin 'Auf dan Thalhah bin ‘Ubaidillah. Dan ini, tidak menutup kemungkinan bahwa ia lebih dulu masuk Islam secara sembunyi-sembunyi.

Banyak sekali keistimewaan yang dimiliki oleh Sa'ad ini, yang dapat ditonjolkan dan dibanggakannya. Tetapi di antara semua itu dua hal penting yang selalu menjadi dendang dan senandungnya. Pertama, bahwa dialah yang mula-mula melepaskan anak panah dalam membela Agama Allah, dan juga orang yang mula-mula terkena anak panah. Dan kedua, bahwa dia merupakan satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasulullah dengan jaminan kedua orang tua beliau. Bersabdalah Rasulullah saw di waktu perang Uhud, "Panahlah hai Sa'ad! Ibu bapakku menjadi jaminan bagimu."

Memang! Kedua ni'mat besar ini selalu menjadi dendangan Sa'ad buah syukurnya kepada Allah. Katanya, "Demi Allah sayalah orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah..!" Dan berkata pula Ali bin Abi Thalib, "Tidak pernah saya dengar Rasulullah menyediakan ibu bapaknya sebagai jaminan seseorang, kecuali bagi Sa'ad. Saya dengar beliau bersabda waktu Perang Uhud, "Panahlah, hai Sa'ad Ibu bapakku menjadi jaminan bagimu."

Sa'ad termasuk seorang kesatria berkuda Arab dan Muslimin yang paling berani. Ia mempunyai dua macam senjata yang amat ampuh, yaitu panahnya dan do'anya. Jika ia memanah musuh dalam peperangan, pastilah akan mengenai sasarannya, dan jika ia menyampaikan suatu permohonan kepada Allah pastilah dikabulkan-Nya. Menurut Sa'ad sendiri dan juga para shahabat- nya, hal itu adalah disebabkan do'a Rasulullah juga bagi pribadinya. Pada suatu hari ketika Rasulullah menyaksikan dari Sa'ad sesuatu yang menyenangkan dan berkenan di hati beliau, diajukannyalah do'a yang maqbul ini, "Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya, dan kabulkanlah do'anya."

Demikianlah ia terkenal di kalangan saudara-saudara dan handai tolannya bahwa do'anya tak ubah bagai pedang yang tajam. Hal ini juga disadari sepenuhnya oleh Sa'ad sendiri, hingga ia tak hendak berdo'a bagi kerugian seseorang, kecuali dengan menyerahkan urusannya kepada Allah Ta'ala. Sebagai contoh ialah peristiwa yang diriwayatkan oleh 'Amir bin Sa'ad.

"Sa'ad mendengar seorang laki-laki memaki 'Ali, Thalhah dan Zubair. Ketika dilarangnya, orang itu tak hendak menurut. Maka katanya, 'Kalau begitu saya do’akan kamu kepada Allah' Ujar laki-laki itu, 'Rupanya kamu hendak menakut-nakuti aku, seolah-olah kamu seorang Nabi.' Maka Sa'ad pun pergi wudlu dan shalat dua raka'at. Lalu diangkatlah kedua tangannya, katanya, 'Ya Allah, kiranya menurut ilmu-Mu laki-laki ini telah memaki segolongan orang yang telah beroleh kebaikan dari-Mu, dan tindakan mereka itu mengundang amarah murka-Mu, maha mohon dijadikan hal itu sesuatu pertanda dan suatu pelajaran...!'"

"Tidak lama kemudian, tiba-tiba dari salah satu pekarangan rumah, muncul seekor unta liar dan tanpa dapat dibendung masuk ke dalam lingkungan orang banyak seolah-olah ada yang dicarinya. Lalu diterjangnya laki-laki tadi dan dibawanya ke bawah kakinya, serta beberapa lama menjadi bulan-bulanan injakan dan sepakannya hingga akhirnya tewas menemui ajalnya..!"

Kenyataan ini pertama kali mengungkapkan kebeningan jiwa, kebenaran iman dan keikhlasannya yang mendalam. Begitu pula Sa'ad, jiwanya adalah jiwa merdeka, keyakinannya keras membaja serta keikhlasannya dalam dan tidak bernoda. Dan untuk menopang ketaqwaannya ia selalu memakan yang halal, dan menolak dengan keras setiap dirham yang mengandung syubhat.

Dalam kehidupan akhirnya Sa'ad termasuk Kaum Muslimin yang kaya dan berharta. Waktu wafat, ia meninggalkan kekayaan yang tidak sedikit. Tapi kalau biasanya harta banyak dan harta halal jarang sekali dapat terhimpun; maka di tangan Sa'ad hal itu telah terjadi. Ia dilimpahi harta yang banyak, yang baik dan yang halal sekaligus. Di samping itu ia dapat dijadikan seorang mahaguru pula dalam soal membersihkan harta. Dan kemampuannya dalam mengumpulkan harta dari barang bersih lagi halal, diimbangi bahkan mungkin diatasi oleh kesanggupan menafqahkannya di jalan Allah.

Ketika Hajji Wada', Sa'ad ikut bersama Raisulullah saw. Kebetulan ia jatuh sakit, maka Rasulullah datang menengoknya. Tanya Sa'ad, "Wahai Rasulullah, saya punya harta dan ahli warisku hanya seorang puteri saja. Bolehkah saya shadaqahkan dua pertiga hartaku?" "Tidak," jawab Nabi. "Kalau begitu, separohnya?" tanya Sa'ad pula. "Jangan," ujar Nabi. "Jadi, sepertiganya?" "Benar," ujar Nabi, "Dan sepertiga itupun sudah banyak. Lebih baik anda meninggalkan ahli waris dalam keadaan mampu daripada membiarkannya dalam keadaan miskin dan menadahkan tangannya kepada orang lain. Dan setiap nafqah yang anda keluarkan dengan mengharap keridlaan Allah, pastilah akan diberi ganjaran, bahkan walau sesuap makanan yang anda taruh di mulut isteri anda!" Beberapa lama Sa'ad hanya mempunyai seorang putri. Tetapi setelah peristiwa di atas, ia beroleh lagi beberapa orang putera.

Karena takutnya kepada Allah, Sa'ad sering menangis. Jika didengarnya Rasulullah berpidato dan menasihati ummat, air matanya bercucuran hingga membasahi haribaannya. Ia adalah seorang shahabat yang diberi ni'mat taufiq dan diterima ibadahnya. Pada suatu hari ketika Rasulullah sedang duduk-duduk bersama para shahabat, tiba-tiba beliau menatap dan menajamkan pandangannya ke arah ufuk bagai seseorang yang sedang menunggu bisikan atau kata-kata rahasia. Kemudian beliau menoleh kepada para shahabat, sabdanya, "Sekarang akan muncul di hadapan tuan-tuan seorang laki-laki penduduk surga."

Para shahabat pun nengok kiri kanan dan ke setiap arah untuk melihat siapakah kiranya orang berbahagia yang beruntung beroleh taufiq dan karunia itu? Dan tidak lama antaranya muncullah di hadapan mereka Sa'ad bin Abi Waqqash. Selang beberapa lama, Abdullah bin 'Amr bin 'Ash datang kepadanya meminta jasa baiknya dan mendesak agar menunjukkan kepadanya jenis ibadah dan amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang menyebabkannya berhak menerima ganjaran tersebut yang telah diberitakan sehingga menjadi daya tarik untuk mengerjakannya. Maka ujar Sa'ad, "Tak lebih dari amal ibadah yang biasa kita kerjakan, hanya saja saya tak pernah menaruh dendam atau niat jahat terhadap seorangpun di antara Kaum muslimin!"

Nah, itulah dia Singa yang Selalu Menyembunyikan Kukunya yang diungkapkan oleh Abdurrahman bin 'Auf. Dan inilah tokoh yang dipilih Umar untuk memimpin pertempuran Qadisiyah yang dahsyat itu! Kenapa memilihnya untuk melaksanakan tugas yang paling rumit yang sedang dihadapi Islam dan Kaum Muslimin, karena keistimewaannya terpampang jelas di hadapan Amirul Mu'minin.


Ia adalah orang yang maqbul do'anya, jika ia memohon diberi kemenangan oleh Allah, pastilah akan dikabulkan-Nya.
Ia seorang yang hati-hati dalam makan, terpelihara lisan dan suci hatinya.
Salah seorang anggota pasukan berkuda di perang Badar, di perang Uhud, pendeknya di setiap perjuangan bersenjata yang diikutinya bersama Rasulullah saw.
Dan satu lagi yang tak dapat dilupakan oleh Umar, suatu keistimewaan yang tak dapat diabaikan harga, nilai dan kepentingannya, serta harus dimiliki oleh orang yang hendak melakukan tugas penting, yaitu kekuatan dan ketebalan iman.
Umar tidak lupa akan kisah Sa'ad dengan ibunya sewaktu ia masuk Islam dan mengikuti Rasulullah. Ketika itu segala usaha ibunya untuk membendung dan menghalangi puteranya dari Agama Allah mengalami kegagalan. Maka segala jalan yang tak dapat tidak, pasti akan melemahkan semangat Sa'ad dan akan membawanya kembali ke pangkuan agama berhala dan kepada kaum kerabatnya. Wanita itu menyatakan akan mogok makan dan minum sampai Sa'ad bersedia kembali ke agama nenek moyang dan kaumnya. Rencana itu dilaksanakannya dengan tekad yang luar biasa, ia tak hendak menjamah makanan atau minuman hingga hampir menemui ajalnya. Tetapi Sa'ad tidak terpengaruh oleh hal tersebut, bahkan ia tetap pada pendiriannya, ia tak hendak menjual Agama dan keimanannya dengan sesuatupun, bahkan walau dengan nyawa ibunya sekalipun.

Ketika keadaan ibunya telah demikian gawat beberapa orang keluarganya membawa Sa'ad kepadanya untuk menyaksikannya kali yang terakhir, dengan harapan hatinya akan menjadi lunak jika melihat ibunya dalam sekarat. Sesampainya di sana, Sa'ad menyaksikan suatu pemandangan yang amat menghancurkan hatinya yang bagaikan dapat menghancurkan baja dan meluluhkan batu karang. Tapi keimanannya terhadap Allah dan Rasul mengatasi baja dan batu karang mana pun juga. Didekatkan wajahnya ke wajah ibunya dan dikatakannya dengan suara keras agar kedengaran olehnya.

"Demi Allah ketahuilah wahai ibunda, seandainya bunda mempunyai seratus nyawa, lalu ia keluar satu per satu, tidaklah anak anda akan meninggalkan Agama ini walau ditebus dengan apa pun juga! Maka terserahlah kepada bunda, apakah bunda akan makan atau tidak!"

Akhirnya ibunya mundur teratur, dan turunlah wahyu menyokong pendirian Sa'ad serta mengucapkan selamat kepadanya, sebagai berikut, "Dan seandainya kedua orang tua memaksamu untuk mempersekutukan Aku, padahal itu tidak sesuai dengan pendapatmu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya!" (QS Luqman: l5)

Nah, tidakkah ini betul-betul singa yang menyembunyikan kukunya? Jika demikian halnya, pantaslah Amirul Mukminin dengan hati tenang memancangkan panji-panji Qadisiyah ditangan kanannya, dan mengirimnya untuk menghalau pasukan Persi yang tidak kurang jumlahnya dari seratus ribu prajurit yang terlatih dan diperlengkapi dengan senjata dan alat pertahanan yang paling ditakuti dunia waktu itu, dipimpin oleh otak-otak perang yang paling jempol, dan ahli-ahli siasatnya yang paling cerdik dan licik.

Memang, kepada tentara musuh yang menakutkan inilah Sa'ad datang dengan membawa tigapuluh ribu mujahid tidak lebih, di tangan masing-masing tergenggam panah dan tumbak. Hanya semata-mata panah dan tumbak, tetapi dalam dada menyala kemauan dari Agama baru, yang membuktikan keimanan, kehangatan, serta kerinduan yang luar biasa terhadap maut dan mati syahid!

Dan kedua pasukan itupun bertemulah. Tetapi belum, mereka belum lagi bertempur. Di sana Sa'ad masih menunggu bimbingan dan pengarahan dari Amirul Mu'minin Umar. Inilah surat Umar yang memerintahkannya segera berangkat ke Qadisiyah, yang merupakan pintu gerbang memasuki Persi, ditancapkannya dalam hatinya kalimat berharga yang semuanya merupakan petunjuk dan cahaya.

"Wahai Sa'ad bin Wuhaib! Janganlah anda terpedaya di hadapan Allah, mentang-mentang dikatakan bahwa anda adalah paman dan shahabat Rasulullah! Sungguh, tak ada hubungan keluarga antara seseorang dengan Allah kecuali dengan mentaati-Nya! Semua manusia baik yang mulia maupun yang hina, pada pandangan Allah serupa tidak berbeda. Allah Tuhan mereka, sedang mereka hamba-Nya. Mereka berlebih berkurang dalam kesehatan, dan akan beroleh karunia yang tersedia di sisi Allah dengan ketaatan."

"Maka perhatikanlah segala sesuatu yang pernah anda lihat pada Rasulullah saw. semenjak ia diutus sampai meninggalkan kita dan pegang teguhlah, karena itulah yang harus diikuti!" Kemudian katanya pula, "Tulislah kepadaku segala hal-ikhwal tuan-tuan, bagaimana kedudukan tuan-tuan, dan di mana pula posisi musuh terhadap tuan-tuan, terangkan sejelas-jelasnya, hingga seolah-olah aku menyaksikan sendiri keadaan tuan-tuan." Sa'ad pun menulis surat kepada Amirul Mu'minin dan menuliskan segala sesuatu, hingga hampir saja diterangkannya tempat dan posisi setiap prajurit secara terperinci.

Sa'ad telah sampai di Qadisiyah, sementara seluruh tentara dan rakyat Persia berhimpun, sesuatu hal yang tak pernah mereka lakukan selama ini. Kendali pimpinannya dipegang oleh panglimanya yang ulung dan paling terkenal, yaitu Rustum. Sebagai balasan surat dari Sa'ad yang baru dikirimnya, Amirul Mukminin menulis.

"Sekali-kali janganlah anda gentar mendengar berita dan persiapan mereka! Bermohonlah kepada Allah dan tawakkallah kepada-Nya! Dan kirimlah sebagai utusan, orang-orang yang cerdas dan tabah untuk menyeru mereka ke jalan Allah. Dan tulislah surat kepadaku setiap hari." Kembali Sa'ad mengirim surat kepada Amirul Mu'minin, menyampaikan bahwa Rustum telah menduduki Sabath dengan mengerahkan pasukan gajah dan berkudanya dan mulai bergerak menuju Kaum Muslimin. Balasan dari Umar datang yang isinya memberi petunjuk dan menabahkan hati Sa'ad.

Sa'ad bin Abi Waqqash seorang anggota pasukan berkuda yang ulung dan gagah berani, paman Rasulullah dan termasuk golongan yang mula pertama masuk Islam, pahlawan dari berbagai perjuangan bersenjata, pancungan dan panahnya yang tak pernah meleset, sekarang tampil mengepalai tentaranya dalam menghadapi salah satu peperangan terbesar dalam sejarah, tak ubahnya bagi seorang prajurit biasa! Baik kekuatan maupun kedudukannya sebagai pemimpin, tidak mampu mempengaruhi dan memperdayakan dirinya untuk mengandalkan pendapatnya semata.

Tetapi ia selalu menghubungi Amirul Mukminin di Madinah yang jaraknya demikian jauh, dengan mengirimnya sepucuk surat tiap hari untuk bermusyawarah, dan bertukar pendapat, padahal pertempuran besar itu telah hampir berkecamuk. Sebabnya tidak lain, ialah karena Sa'ad ma'lum bahwa di Madinah, Umar tidaklah mengemukakan pendapatnya semata atau mengambil keputusan seorang diri, tetapi tentulah ia akan bermusyawarah dengan orang-orang di sekelilingnya dan dengan shahabat-shahabat utama Rasulullah. Dan bagaimana juga gawatnya suasana perang, Sa'ad tak hendak kehilangan baroqah dan manfa'atnya musyawarah, baik bagi dirinya maupun bagi tentaranya, apalagi ia tahu benar bahwa di pusat komando, itu pimpinannya langsung dipegang Umar al-Faruk, pembangkit ilham atau inspirasi agung.

Pesan dari Umar dilaksanakan oleh Sa'ad. Dikirimnya serombongan di antara shahabat-shahabatnya sebagai utusan kepada Rustum panglima tentara Persia untuk menyerunya iman kepada Allah dan Agama Islam. Soal jawab di antara mereka dengan Panglima Persi itu berlangsung lama, dan akhirnya mereka tidak diperbolehkan lagi berbicara, karena salah seorang di antara mereka mengatakan.

"Sesungguhnya Allah telah memilih kami untuk membebaskan hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya dari pemujaan berhala kepada pengabdian terhadap Allah Yang Maha Esa, dari kesempitan dunia kepada keluasaannya, dan dari kedhaliman pihak penguasa kepada keadilan Islam. Maka siapa-siapa yang bersedia menerima itu dari kami, kami terima pula kesediaannya dan kami biarkan mereka. Tetapi siapa yang memerangi kami, kami perangi pula mereka hingga kami mencapai apa yang telah dijanjikan Allah."

"Apa janji yang telah dijanjikan Allah itu?" tanya Rustum. Jawab pembicara, "Surga bagi kami yang mati syahid, dan kemenangan bagi yang masih hidup." Para utusan kembali kepada panglima pasukan Islam Sa'ad dan menyampaikan bahwa tak ada pilihan lain daripada perang. Dan airmata Sa'ad berlinang-linang. Ia berharap seandainya saat pertempuran itu dapat diundurkan atau dimajukan sedikit waktu. Ketika itu ia sedang sakit parah hingga ia sulit untuk bergerak.

Bisul-bisul bertonjolan di sekujur tubuhnya, hingga ia tak dapat duduk, apalagi akan menaiki punggung kudanya dan menerjuni pertempuran yang sengit berkuah darah! Seandainya saat pecah perang itu terjadi sebelum ia jatuh sakit, atau sesudah bisul-bisul itu meletus dan sembuh, pastilah ia akan menunjukkan prestasi tinggi. Tetapi tidak, Rasulullah saw telah mengajarkan kepada mereka supaya tidak mengatakan "seandainya", karena kata kata itu menunjukkan kelemahan, sedang orang Mukmin yang kuat tidak kehabisan akal dan tidak pernah lemah!

Ketika itu bangkitlah singa yang menyembunyikan kukunya itu, lalu berdiri dihadapan tentara menyampaikan pidato dengan tak lupa mengutip ayat mulia berikut ini, "Bismillahirrahmanirrahim. Telah Kami cantumkan dalam Zabur setelah sebelumnya Kami catat dalam (Lauh Mahfudh) peringatan bahwa Bumi itu diwarisi oleh hamba-hambaKu yang shalih." (QS Al-Anbiya: l05)

Setelah menyampaikan pidatonya Sa'ad melakukan shalat dhuhur bersama tentaranya, kemudian sambil menghadap kepada mereka, ia mengucapkan takbir empat kali, "Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar." Alampun gemuruh dan bergema dengan suara takbir, dan sambil mengulurkan tangannya kemuka bagai anak panah yang sedang melepas laju menunjuk ke arah musuh, Sa'ad berseru kepada anak buahnya, "Ayolah maju dengan barkat dari Allah!"

Dengan menabahkan diri menanggung sakit yang dideritanya, Sa'ad naik ke anjung rumah yang ditinggalinya dan yang diambilnya sebagai markas komandonya. Sambil telungkup di atas dadanya yang dialasi bantal sementara pintu anjung itu terbuka lebar. Sedikit saja serangan dari orang-orang Persi ke rumah itu, akan menyebabkan panglima Muslimin jatuh ke tangan mereka, hidup atau mati. Tetapi ia tidak gentar dan tidak merasa takut. Bisul-bisul pecah berletusan, tetapi ia tidak perduli, hanya terus berseru dan bertakbir serta mengeluarkan perintah kepada anak buahnya.

"Majulah ke kanan..." dan kepada yang lain, "Tutup pertahanan sebelah kiri... Awas di depanmu hai Mughirah, ke belakang mereka hai Jarir.., pukul hai Nu'man..., serbu hai Asy'ats.., hantam hai Qa'qa'..., majulah semua hai shahabat-shahabat Muhammad saw...!" Suaranya yang berwibawa penuh dengan kemauan dan semangat baja, menyebabkan masing-masing prajurit itu berubah menjadi kesatuan yang utuh.

Maka berjatuhanlah tentara Persi, tak ubah bagai lalat-lalat yang berkaparan, dan rubuhlah bersama mereka keberhalaan dan pemujaan api! Dan setelah melihat tewasnya panglima besar dan prajurit-prajurit pilihan mereka, sisa-sisa musuh tunggang langgang melarikan diri. Mereka dikejar dan dihalau oleh tentara Islam sampai ke Nahawand lalu ke Mada-in. Ibu kota itu mereka masuki untuk merampas kursi singgasana dan mahkota Kisra yang menjadi ambang keberhalaan.

Di pertempuran Mada-in Sa'ad mencapai prestasi tinggi. Pertempuran ini terjadi kira-kira dua setengah tahun setelah pertempuran Qadisiyah, sementara perang berlangsung secara kecil-kecilan antara Persi dan Kaum Muslimin. Akhirnya semua sisa tentara Persi ini berhimpun di kota-kota Mada-in saja, bersiap-siap untuk menghadapi pertempuran terakhir dan menentukan.

Sa'ad menyadari bahwa situasi medan dan musim menguntungkan pihak penentang Islam, karena antara pasukannya dan Mada-in terbentang sungai Tigris yang lebar, alirannya sangat deras karena sedang banjir meluap-luap. Walaupun demikian dengan teguh hati ia tetap memutuskan untuk memulai serangan umum itu pada waktu itu juga, dengan perhitungan bahwa mental pasukan musuh sedang menurun.

Nah, di antaranya peristiwa inilah yang membuktikan bahwa, Sa'ad betul-betul sebagai dilukiskan oleh Abdurrahman bin 'Auf, singa yang menyembunyikan kukunya. Keimanan Sa'ad dan kepekatan hatinya akan tampak menonjol ketika menghadapi bahaya, hingga dapat mengatasi barang mustahil berkat keberanian yang luar biasa.

Demikianlah Sa'ad mengeluarkan perintah kepada pasukannya, untuk menyeberangi sungai Tigris, dan disuruhnya menyelidiki yang dangkal dari sungai yang dapat dijadikan tempat penyeberangan ini. Dan akhirnya mereka menemukan tempat tersebut, walaupun untuk menyeberanginya tidak luput dari bahaya yang mengancam. Sebelum tentara memulai penyeberangan, panglima besar Sa'ad menyadari pentingnya pengamanan pinggiran seberang sungai yang hendak dicapai, yakni daerah yang ada dalam kekuasaan dan pengawasan musuh.

Ketika itu disiapkannya dua kompi tentara, Pertama yang dinamakannya Kompi Sapu Jagat, sebagai komandannya diangkatnya 'Ashim bin 'Amr. Dan yang kedua disebutnya Kompi Gerak Cepat, sebagai pemimpinnya diangkatnya Qa'qa bin Amr. Adapun tugas dari kedua kompi ini ialah menerjuni bahaya dan menetas jalan yang aman menuju pinggir sebelah musuh dan melindungi induk pasukan yang akan mengiringi mereka dari belakang.

Dan mereka telah menunaikan tugas itu dengan kemahiran yang mena'jubkan. Hingga siasat yang dilakukan Sa'ad ketika itu mencapai hasil yang mengagumkan bagi para ahli sejarah, bahkan bagi diri Sa'ad bin Abi Waqqash sendiri. Salman al-Farisi, yakni teman dan kawan seperjuangannya dalam pertempuran itu, juga hampir-hampir tak percaya akan hasil yang telah dicapai. Ia menepukkan kedua belah tangannya karena takjub dan bangga, katanya.

"Agama Islam masih baru. Tetapi lautan telah dapat mereka taklukkan sebagai halnya daratan telah mereka kuasai. Demi Allah yang nyawa Salman berada dalam tangan-Nya, pastilah mereka akan dapat keluar dengan selamat daripadanya berbondong-bondong, sebagaimana mereka telah memasukinya berbondong-bondong!"

Dan benarlah apa yang dikatakannya itu. Sebagaimana mereka telah terjun ke dalam sungai gelombang demi gelombang, demikianlah pula mereka keluar dari dalamnya dan mencapai seberang sana gelombang demi gelombang pula. Tak seorang pun dari mereka kehilangan prajurit, bahkan tak sedikit pun tentara Persi yang mampu mengunjukkan giginya! Mangkok tempat minumannya seorang prajurit jatuh ke dalam air. Maka ia tak ingin jadi satu-satunya orang yang kehilangan barang waktu penyeberangan itu.

Kepada teman-temannya diserukannya agar menolongnya untuk mendapatkan barang itu kembali. Kebetulan suatu ombak besar melemparkan mangkok itu ke dekat rombongan hingga dapat mereka pungut. Salah satu riwayat tentang sejarah melukiskan bagaimana dahsyatnya suasana ketika penyeberangan sungai Tigris itu, katanya.

"Sa'ad memerintahkan Kaum Muslimin agar membaca, 'Hasbunallaahu wa ni'mal wakiil - Cukuplah bagi kita Allah, dan Dia-lah sebaik-baik pemimpin.' Lalu dikerahkanlah kudanya menerjuni sungai yang diikuti oleh orang-orangnya, sehingga tak seorang pun di antara anggota pasukan yang tinggal di belakang. Maka berjalanlah mereka dalam air, tak ubah bagai berjalan di darat juga, hingga dari pinggir yang satu ke pinggir lainnya telah dipenuhi oleh prajurit, dan permukaan air tak keliatan lagi disebabkan amat banyaknya anggota angkatan berkuda serta pasukan pejalan kaki."

Orang-orang bercakap-cakap sesamanya ketika berada dalam air, seolah-olah mereka sedang bercakap-cakap di darat. Sebabnya tidak lain karena mereka merasa aman tenteram, serta percaya akan ketentuan Allah dan pertolongan-Nya, akan janji dan bantuan-Nya. Tatkala Sa'ad diangkat Umar sebagai amir wilayah Irak, ia mulai melakukan pembangunan dan perluasan kota. Kota Kufah diperbesar, dan diumumkanlah hukum Islam serta dilaksanakan di daerah yang luas dan lebar itu.

Pada suatu hari rakyat Kufah mengadukan Sa'ad sebagai wali negerinya kepada Amirul Mukminin, rupanya mereka sedang dipengaruhi oleh tabi'at yang mudah dihasut, cepat resah, gelisah dan suka memberontak, hingga mereka mengemukakan tuduhan yang bukan-bukan dan mentertawakan. Kata mereka, "Sa'ad tidak baik shalatnya..." Mendengar itu Sa'ad hanya tertawa terbahak-bahak, ujarnya, "Demi Allah, yang saya lakukan hanyalah mengerjakan shalat bersama mereka sebagai shalat Rasulullah, yaitu memanjangkan dua raka'at yang mula-mula dan memendekkan dua raka'at yang akhir."

Sa'ad dipanggil Umar ke Madinah untuk menghadap. Sa'ad tidak marah, bahkan segera dipenuhi panggilan itu secepatnya. Setelah beberapa lama, Umar bermaksud untuk mengembalikannya ke Kufah, tapi sambil tertawa Sa'ad menjawab, "Apakah anda hendak mengembalikan saya kepada kaum yang menuduh bahwa shalat saya tidak baik?" Demikianlah ia memilih tinggal di Madinah.

Ketika Amirul Mukminin dicederai orang, dipilihnyalah enam orang di antara shahabat-shahabat Rasulullah saw yang akan mengurus soal pemilihan khalifah baru, dengan mengemukakan alasan bahwa keenam orang yang dipilihnya itu adalah terdiri dari orang-orang yang diridlai Rasulullah saw sewaktu beliau hendak berpulang ke rahmatullah.

Maka di antara shahabat yang berenam itu terdapatlah Sa'ad bin Abi Waqqash. Bahkan dari kalimat-kalimat Umar yang akhir terdapat kesan bahwa seandainya ia hendak memilih salah seorang di antara mereka, maka pilihannya akan jatuh pada Sa'ad. Sewaktu memberi wasiat dan mengucapkan selamat perpisahan dengan shahabat-shahabatnya, Umar berkata, "Jika khalifah dijabat oleh Sa'ad, demikianlah sebaiknya. Dan seandainya dijabat oleh lainnya, hendaklah ia menjadikan Sa'ad sebagai pendampingnya."

Sa'ad mencapai usia lanjut dan tibalah saat terjadinya fitnah besar. Sa'ad tak hendak mencampurinya bahkan kepada keluarga dan putera-puteranya dipesankan agar tidak menyampaikan suatu berita pun mengenai hal itu kepadanya. Pada suatu ketika perhatian orang sama-sama tertuju kepadanya, dan anak saudaranya yang bernama Hasyim bin 'Utbah bin Abi Waqqash datang mendapatkannya, seraya berkata, "Paman, di sini telah siap seratus ribu bilah pedang, yang menganggap bahwa pamanlah yang lebih berhak mengenai urusan khilafah ini!"

Ujar Sa'ad, "Dari seratus ribu bilah pedang itu saya inginkan sebilah pedang saja, jika saya tebaskan kepada orang Mu'min maka takkan mempan sedikit pun juga. Tetapi, bila saya pancungkan kepada orang kafir pastilah putus batang lehernya." Mendengar jawaban itu anak saudaranya maklum akan maksudnya dan membiarkannya dalam sikap damai dan tak hendak bercampur tangan.

Dan tatkala akhirnya khilafah itu jatuh ke tangan Mu'awiyah dan kendali kekuasaan tergenggam dalam tangannya, ditanya kepada Sa'ad, "Kenapa anda tidak ikut berperang di pihak kami?" Ujarnya, "Saya sedang lewat di suatu tempat yang dilanda taufan berkabut gelap. Maka kataku, 'Hai Saudara.., hai saudaraku!' Lalu saya hentikan kendaraan menunggu jalan terang kembali."

Kata Mu'awiyah, "Bukankah dalam al-Quran tak ada, 'Hai saudara! hai saudara!' Hanya firman Allah Ta'ala, 'Jika di antara orang-orang Mukmin ada dua golongan yang berbunuhan, maka damaikanlah mereka! Seandainya salah satu di antara kedua golongan itu berbuat aniaya kepada yang lain, maka perangilah yang berbuat aniaya itu sampai mereka kembali kepada perintah Allah,' (QS Al-Hujurat: 9)"

"Maka anda bukanlah di pihak yang aniaya terhadap pihak yang benar, dan bukan pula di pihak yang benar terhadap golongan yang aniaya." Sa'ad menjawab sebagai berikut, "Saya tak hendak memerangi seorang laki-laki (maksudnya Ali) yang mengenai dirinya Rasulullah pernah bersabda, "Engkau di sampingku, tak ubahnya seperti kedudukan Harun di samping Musa, tetapi (engkau bukan Nabi) tak ada lagi Nabi sesudahku!"

Suatu hari pada tahun 54 H, yakni ketika usia Sa'ad telah lebih dari 80 tahun, ia sedang berada di rumahnya di 'Aqiq, sedang bersiap-siap hendak menemui Allah Ta'ala. Saatnya yang akhir itu diceritakan puteranya kepada kita sebagai berikut, "Kepala bapakku berada di pangkuanku ketika ia hendak meninggal itu. Aku menangis, maka katanya, 'Kenapa kamu menangis wahai anakku? Sungguh Allah tiada akan menghukumku, dan sesungguhnya aku termasuk salah seorang penduduk surga...!'"

Kekebalan imannya tak tergoyahkan oleh apapun juga, bahkan tidak oleh goncangan maut dan kengeriannya. Bukankah Rasulullah saw. telah menyampaikan kabar gembira kepadanya, sedang ia iman dan percaya penuh akan kebenaran Rasulullah saw itu. Jadi apa yang akan ditakutkannya lagi? "Sungguh, Allah tiada akan menyiksaku, dan sungguh aku termasuk penduduk surga...!"

Hanya ia hendak menemui Allah dengan membawa kenang-kenangan yang paling manis dan mengharukan, yang telah menghubungkan dengan Agamanya dan mempertemukan dengan Rasul-Nya. Itulah sebabnya ia memberi isyarat ke arah peti simpanannya, yang ketika mereka buka dan keluarkan isinya, ternyata sehelai kain tua yang telah usang dan lapuk. Disuruhlah keluarganya mengafani mayatnya nanti dengan kain itu, katanya.

"Telah kuhadapi orang-orang musyrik waktu perang Badar dengan memakai kain itu dan telah kusimpan ia sekian lama untuk keperluan seperti pada hari ini." Memang, kain usang yang telah lapuk itu tak dapat dianggap sebagai kain biasa! Ia adalah panji-panji yang senantiasa berkibar di puncak kehidupan tinggi dan panjang yang dilalui pemiliknya dengan tulus dan beriman serta gagah berani.

Dan sosok tubuh dari salah seorang yang terakhir meninggal di antara orang-orang Muhajirin ini dipikul di atas pundak orang-orang yang membawanya ke Madinah, untuk ditempatkan dengan aman di dekat sekelompok tokoh-tokoh suci dari para shahabat yang telah mendahuluinya menemui Allah, dan jasad-jasad mereka yang dipenuhi rasa rindu itu mendapatkan tempatnya di bumi dan tanah Baqi'.

Selamat jalan wahai Sa'ad...! Selamat jalan wahai pahlawan Qadisiyah, pembebas Mada-in dan pemadam api pujaan di Persi untuk selama-lamanya...!
Selengkapnya...

Muawiyah Bin Abu Sofyan - Putera Panglima Qureisy

Muawiyah dilahirkan dari keluarga hartawan dan pedagang besar yang menguasai perekonomian hampir seluruh semenanjung Arabia. Ayahnya bernama Abu Sufyan. Abu Sufyan inilah yang menjadi panglima besar kafir Quraisy pada perang Uhud, Khandaq dan pemimpin pemerintahan sampai Mekah dibebaskan oleh Rasulullah.

Ibunya bernama Hindun bin Utbah, seorang wanita lincah, cekatan yang mempunyai andil besar dalam membantu suami di perang Uhud. Pada waktu perang Badar, Hindun kehilangan ayah, paman, saudara dan puteranya. Untuk menuntut bela terhadap keluarganya itu, ia mengupah Wahsyi sebagai pembunuh bayaran untuk membunuh dan mengambil jantung Hamzah paman Nabi dan syahid agung untuk dimakannya mentah-mentah. Usaha menuntut bela ini dapat dicapainya.

Setelah Mekah dibebaskan, bersamaan dengan ayahnya ia pun masuk Islam. Setelah masuk Islam, ia menjadi salah seorang sekretaris Rasulullah saw. Ia pun ikut perang Hunain dan dengan gagah berani memperlihatkan keperwiraannya sebagai seorang putera bekas panglima dan mendapat pembagian rampasan perang bersama ayahnya melebihi yang lain karena keduanya masih muallaf (orang yang baru masuk Islam, yang mendapat jaminan hidup lebih dari orang yang sudah betul-betul beriman, supaya tidak murtad lagi).

Di zaman Khilafah Abubakar ra, ia ikut bertempur melawan Romawi di Syam (Damsyiq) di bawah pimpinan kakaknya Yazid bin Abu Sofyan. Ketika Yazid wafat, Muawiyah mengambil alih pimpinan pemerintahan dan kemudian oleh Khalifah Abubakar ra ditetapkan, menjadi wali negeri Syam sebagai pengganti kakaknya itu.

Pada masa Khalifah Umar Ibnul Khatthab ra, ia masih menjadi wali negeri Damsyiq. Ketika Khalifah Umar ra meninjau Syam, beliau mendapatkan Muawiyah di Istananya yang sangat mewah; Umar berkata, "Ini adalah Kisra (Kaisar) Arab!" Tidak lama setelah itu, karena berbagai alasan, Umar memberhentikan dari jabatannya dan Said bin Amir pelopor hidup sederhana menggantikan Muawiyah.

Pada masa Khalifah Utsman, Muawiyah diangkat kembali menjadi wali negeri seluruh Syria, termasuk Palestina. Banyak pengaduan rakyat kepada Khalifah Utsman tentang tindakan wali negeri ini, termasuk keberandalan puteranya. Akan tetapi sebagian besar surat pengaduan itu tidak disampaikan kepada Khalifah oleh sekretaris beliau yang bernama Marwam (saudara sepupu Muawiyah). Atas pengkhianatan Marwam inilah timbulnya pemberontakan dan terbunuhnya Khalifah Utsman.

Muawiyah adalah seorang jenius, pintar dan cerdik, politisi dan panglima perang. la mampu menggunakan kekuasaan dan harta negara dalam mencari kawan dan merangkul bawahan. Sahabat Nabi yang mulia ini, walaupun banyak ahli sejarah yang mencaci-makinya, wafat pada tahun 60 Hijrah dalam usia 78 tahun. Semoga Allah mengampuni dan menerima amal baktinya.

SumberBacaan :
Ibnu Hajar al-hsqalani: Tahdzib Attahdzib Jilid 10. Dar Shadar, Beirut, 1968.
Izuddin bin al-atsir: Usdul Ghabah P Ma 'rifatis Shahabah, As-Syu'b, Mesir, 1970.
Izuddin bin al-Atsir: AI-Kamil fil Tarikh, Dar Shadar, Beirut, 1965.
Khalid Muhammad Khalid: Ar-Rijal Haulal Raslll, Darul Kutub al-Arabiah, Beirut, 1973.
Selengkapnya...

Muaz bin Jabal

Muaz bin Jabal dilahirkan di Madinah. Ia mempunyai keistimewaan sebagai seorang yang sangat pintar dan berdedikasi tinggi. Dari segi fisik, ia gagah dan perkasa. Allah juga mengaruniakan kepadanya kepandaian berbahasa serta tutur kata yang indah. Muaz bin Jabal memeluk Islam sejak ia masih kecil melalui Mus'ab bin Umair, yang diutus oleh Rasulullah SAW ke Madinah untuk mengajar penduduk di sana.

Dalam riwayat keislaman, Muaz termasuk di dalam rombongan yang berjumlah sekitar 72 orang Madinah yang datang bersumpah setia (bai'ah) kepada Rasulullah. Setelah mengucapkan sumpah setia, tak lama Muaz kembali ke Madinah sebagai seorang pendakwah Islam di dalam masyarakat Madinah. Ia berhasil mengislamkan beberapa orang sahabat yang terkemuka seperti misalnya Amru bin Al-Jamuh.

Pada waktu Nabi Muhammad berhijrah ke Madinah, Muaz senantiasa berada bersama dengan Rasulullah sehingga ia dapat memahami Al-Qur'an dan syariat-syariat Islam dengan baik. Hal tersebut membuatnya di kemudian hari muncul sebagai seorang yang paling ahli tentang Al-Qur'an dari kalangan para sahabat. Ia adalah orang yang paling baik membaca Al-Qur'an serta paling memahami syariat-syariat Allah. Oleh sebab itulah Rasulullah memujinya dengan bersabda, "Yang kumaksud umatku yang paling alim tentang halal dan haram ialah Muaz bin Jabal." (HR. Tarmizi dan Ibnu Majah). Selain itu, Muaz merupakan salah satu dari enam orang yang mengumpulkan Al-Qur'an pada zaman Rasulullah.

***

'Dipamiti' Rasulullah SAW

Setelah Allah SWT membuka kota Makkah kepada Rasulullah, penduduk Makkah memerlukan tenaga-tenaga pengajar yang tetap tinggal bersama mereka untuk mengajarkan syariat agama Islam. Rasulullah lantas menyanggupi permintaan tersebut dan meminta supaya Muaz tinggal bersama dengan penduduk Makkah untuk mengajar Al-Qur'an dan memberikan pemahaman kepada mereka mengenai agama Allah SWT. Sifat terpuji beliau juga jelas terlihat manakala rombongan raja-raja Yaman datang menjumpai Rasulullah SAW guna meng-isytihar-kan keislaman mereka dan meminta kepada Rasulullah supaya mengantarkan tenaga pengajar kepada mereka. Begitupun maka Rasulullah memilih Muaz untuk memegang tugas itu bersama-sama dengan beberapa orang para sahabat.

Muaz dipilih menjadi ketua rombongan para sahabat tersebut. Beberapa saat sebelum rombongan pergi, Rasulullah SAW keluar untuk mengucapkan selamat jalan kepada mereka. Lantas beliau mewasiatkan kepada Muaz dengan bersabda : "Wahai Muaz! Kemungkinan kamu tidak akan dapat bertemu lagi dengan aku selepas tahun ini malah mungkin juga selepas ini kamu akan melalui masjid dan kuburku..." Kemudian Muaz menangis karena terlalu sedih untuk berpisah dengan Rasulullah SAW. Selepas peristiwa tersebut ternyata Rasulullah wafat dan Muaz tidak lagi dapat melihatnya.

***

Tetap Menjaga Ghirah

Muaz sangat terpukul atas berpulangnya Rasulluah. Ia bahkan menangis tersedu-sedu selama beberapa saat. Namun ia segera menyadari tanggung jawab dakwah di pundaknya. Ia senantiasa menjaga ghirah (semangat) keislamannya agar tidak surut. Setelah Umar bin Khattab dilantik menjadi khalifah, ia mengutus Muaz untuk mendamaikan pertikaian yang terjadi di kalangan Bani Kilab. Ia pun sukses menjalankan misi itu.

***

Menjadi Guru di Palestina

Pada zaman pemerintahan Khalifah Umar pula, gubernur Syam (sekarang Mesir) mengirimkan Yazid bin Abi Sofian untuk meminta guru bagi penduduknya. Lalu Umar memanggil Muaz bin Jabal, Ubaidah bin As-Somit, Abu Ayub Al-Ansary, Ubai bin Kaab dan Abu Darda' dalam satu majelis. Khalifah Umar berkata kepada mereka : "Sesungguhnya saudara kamu di negeri Syam telah meminta bantuan daripada aku supaya mengantar siapa saja yang dapat mengajarkan Al-Qur'an kepada mereka dan memberikan pemahaman kepada mereka tentang agama Islam. Oleh karena itu bantulah aku untuk mendapat tiga orang dari kalangan kamu semoga Allah merahmati kamu. Sekiranya kamu ingin membuat pengundian, kamu boleh membuat undian, jika tidak aku akan melantik tiga orang dari kalangan kamu."

Lalu mereka menjawab : "Kami tidak akan membuat pengundian dengan memandang bahwa Abu Ayub telah terlalu tua, sedang Ubai pun senantiasa mengalami kesakitan, dan yang tinggal hanya kami bertiga saja." Kemudian Umar berkata kepada mereka : "Kalian mulailah bertugas di Hims, sekiranya kamu suka dengan keadaan penduduknya, bolehlah salah seorang diantara kamu tinggal di sana. Kemudian salah seorang daripada kamu hendaknya pergi ke Damsyik, dan seorang lagi pergi ke Palestina."

Lalu mereka bertiga keluar ke Hims dan mereka meninggalkan Ubaidah bin As-Somit di sana, Abu Darda' pergi ke Damsyik. Muaz bin Jabal terus berlalu pergi ke negara Palestina. Muaz bin Jabal berada di Palestina pada saat negeri tersebut tengah terserang wabah penyakit menular. Tak ayal, ia pun turut pula terkena wabah tersebut. Ketika hampir meninggal, ia berkata : "Selamat datang wahai kematian! Selamat datang kepada tamu yang tak kunjung tiba dan selamat datang kepada kekasih yang datang setelah sekian lama dirindukan!"

Kemudian Muaz melihat ke langit dan berkata : "Wahai Tuhanku! Sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak menyukai dunia apalagi untuk berada kekal di dalamnya selama-lamanya menanam pokok-pokok tanaman dan mengairi sungai, tetapi segala-galanya itu hanyalah sekedar untuk menghilangkan kehausan di kawasan-kawasan yang kekeringan serta mengarungi saat-saat kesusahan dan mendekati ulama-ulama dengan menunggang ke majelis-majelis dzikir. Oleh yang demikian terimalah diriku ini wahai Tuhanku dengan kebaikan sebagaimana Kamu menerima diri seseorang yang beriman." Kemudian Muaz meninggal dunia.
Selengkapnya...

Ka'ab bin Malik

Ka'ab bin Malik adalah salah seorang sahabat Nabi yang mendapat anugerah Allah berupa kepiawaian dalam bersyair dan berjidal. Syair-syairnya banyak bertemakan peperangan. Kemampuan sebagai penyair ini, mengantarkannya menduduki posisi khusus di sisi Nabi, selain dua sahabat yang lain, yaitu Hassan bin Tsabit dan Abdullah bin Rawahah. Ka'ab bin Malik termasuk pemuka sahabat dari kalangan Anshar yang berasal dari suku Khazraj. Nama lengkapnya ialah 'Amr bin Al Qain bin Ka'ab bin Sawaad bin Ghanm bin Ka'ab bin Salamah. Pada masa jahiliyah, ia dikenal dengan kunyahnya (panggilan) Abu Basyir.

Kisah kejujuran Ka'ab bin Malik ini, berawal saat Rasulullah telah mengambil keputusan untuk menyerang Romawi. Beliau memobilisasi para sahabat untuk tujuan itu. Kaum rnuslimin segera melakukan persiapan dan berlomba-lomba menginfakkan harta yang mereka miliki.

Di tengah kesibukan kaum muslimin melakukan persiapan, ada seorang sahabat yang belum memulainya. la bernama Ka'ab bin Malik. Kali ini, Allah hendak mengujinya dengan perang Tabuk.

Pada masa tuanya, Ka'ab bin Malik menuturkan kisahnya kepada putranya : "Aku tidak pernah absen dalam satu peperangan pun bersama Rasulullah kecuali dalam perang Tabuk dan perang Badr. Tatkala Rasulullah berangkat bersama pasukan, aku masih terlambat dan belum sempat melakukan persiapan. Batinku berharap, aku bisa menyusul mereka. Namun akhirnya, langkahku benar- benar terhambat. Kesedihanku bertambah, ketika aku tahu bahwa orang-orang yang tidak bergabung dalam jihad itu hanya orang-orang yang tertuduh munafik atau kaum yang lemah fisiknya".

Saat Rasulullah tiba di Tabuk, Beliau bertanya: "Apa yang terjadi dengan Ka'ab?"

Seorang laki-laki dari kaumku dengan kiasan menjawab,"Baju kesayangannya telah menahannya". Namun Mu'adz menangkisnya,"Sungguh buruk perkataanmu. Demi Allah, kami tidak mengetahui tentang dirinya kecuali baik saja". Rasulullah terdiam.

Ketika Rasulullah, kembali dari peperangan, orang-orang yang absen segera menemui Beliau, untuk menyampaikan alasan-alasan mereka. Jumlah mereka delapan puluh orang lebih. Rasulullah pun menerima alasan-alasan mereka dan memohonkan ampun bagi mereka.

Sempat terbesit dalam benakku untuk mengajukan alasan dusta kepada Beliau, agar aku selamat dari kemarahan Beliau. Namun kuurungkan niatku dan kubulatkan tekad untuk berkata jujur kepada Beliau. Aku mengucapkan salam kepada Beliau, Beliau tersenyum kecut kepadaku.

Beliau berkata,"Kemarilah!"

Aku pun mendekat dan duduk di hadapan Beliau.

Beliau bertanya kepadaku,"Apa yang menahanmu? Bukankah engkau telah mempertaruhkan punggungmu?"

Aku menjawab,"Benar, wahai Rasulullah. Demi Allah, seandainya saat ini aku duduk di hadapan orang selain engkau, tentu aku sampaikan segala argumentasi yang dapat menyelamatkanku dari kemarahan, lantaran aku ahli berjidal (pandai bicara). Namun aku sungguh mengetahui, seandainya hari ini aku berdusta supaya engkau memaklumiku, niscaya Allah yang akan memberitahukan kepada engkau. Aku mengatakan alasan yang sebenarnya dengan jujur kepadamu. Dan sungguh, aku berharap ampunan Allah dengan kejujuranku. Demi Allah, aku sama sekali tidak memiliki alasan saat aku berdiam di rumah dan tidak ikut serta perang bersamamu."

Beliau berkata,''Laki-laki ini telah berkata jujur. Berdirilah sampai Allah memutuskan perkaramu," aku pun berdiri dan meninggalkan Beliau.

Sekelompok laki-laki dari Bani Salimah mengejarku seraya berkata,"Demi Allah, kami tidak mengetahui engkau melakukan dosa sebelum ini. Mengapa engkau tidak beralasan seperti yang dilakukan orang-orang itu? Sungguh, permohonan ampun Rasulullah untukmu akan menghapus dosamu."

Mereka terus membujukku hingga aku berpikir untuk kembali kepada Rasulullah dan berdusta kepada Beliau. Aku bertanya kepada mereka,''Adakah orang yang mengalami hal yang sama sepertiku?"

Mereka menjawab,"Ada! Dua orang laki-laki yang mengatakan alasan seperti alasanmu. Dan Rasulullah mengatakan perkataan yang sama kepada mereka, seperti yang Beliau katakan kepadamu."

Aku bertanya,"Siapa mereka?"

Mereka menjawab,''Murarah bin Ar Rabi' Al 'Amri dan Hilal bin Umayyah Al Waqifi."

Mereka adalah dua orang sahabat yang ikut dalam perang Badr dan pada diri mereka terdapat suri tauladan. Aku pun berlalu meninggalkan mereka.

Sejak saat itu, Rasulullah melarang para sahabat berbicara dengan kami, tiga orang yang tidak ikut dalam perang Tabuk. Dua sahabatku, mereka tak tahan menghadapi hajr (isolasi) yang dilakukan kaum muslimin terhadap kami. Mereka mengurung diri dalam rumah dan tak pernah berhenti menangis. Sedangkan aku adalah orang yang termuda dan terkuat di antara mereka. Kukuatkan hatiku untuk menemui orang-orang, berharap akan ada seseorang yang menyapaku. Namun tak ada seorang pun yang mau berbicara denganku.

Ketika aku memasuki masjid, kuucapkan salam kepada Rasulullah. "Apakah Beliau akan menggerakkan bibirnya untuk menjawab salamku?" tanya hatiku.

Aku pun shalat dan mengambil posisi terdekat dengan Beliau. Aku mencuri-curi pandang kepada Beliau. Ketika aku fokuskan pandangan pada shalatku, Beliau memandangku. Dan bila aku meliriknya, Beliau memalingkan wajahnya dariku.

Keadaan itu terus berlanjut hingga beban itu kian berat kurasakan. Aku pun menemui Abu Qatadah, sepupuku dan orang yang sangat kucintai. Aku memanjat dinding rumahnya dan kuucapkan salam padanya. Namun dia tidak menjawab salamku. Aku berkata memelas padanya, "Wahai, Abu Qatadah! Demi Allah, bukankah engkau mengetahui bahwa aku mencintai Allah dan RasulNya?"

la hanya terdiam dan tidak menanggapi perkataanku. Kuulangi kata-kataku tadi berkali-kali, hingga ia berujar singkat: "Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui". Air mataku pun meleleh tanpa bisa kutahan. Aku berlalu.

Suatu ketika, saat aku berjalan di pasar kota Madinah, seorang laki-laki dari Syam yang menjual makanan di pasar itu bertanya kepada orang- orang: "Siapakah yang mau menunjukkan Ka'ab bin Malik kepadaku?"

Orang-orang pun memberitahukannya. Dia pun mendatangiku. Kemudian menyerahkan sehelai surat dari Raja Ghassan. Tertulis dalam surat itu:

"Telah sampai berita kepadaku, bahwa temanmu telah menyia-nyiakanmu. Sedangkan Allah tidak menjadikanmu orang yang terhina dan tersia-siakan. Bergabunglah dengan kami, maka kami akan rnenolongmu".

Aku berkomentar,"lni pun cobaan untukku," lalu aku lempar surat itu ke dalam tungku api.

Setelah berlalu empat puluh hari semenjak Rasulullah dan para sahabat mengisolasi kami, tiba-tiba datang utusan Beliau dengan membawa perintah agar aku menjauhi istriku. Aku bertanya, "Apakah aku harus menceraikannya atau apa yang harus kulakukan?"

Sang utusan menjawab,'Tidak, tapi jauhilah ia dan jangan engkau sentuh."

Aku berkata kepada istriku, "Kembalilah kepada keluargamu. Tinggallah bersama mereka sampai Allah memutuskan perkara ini."

Keadaan seperti itu terus berlanjut. Hingga tibalah suatu pagi selepas aku shalat shubuh. Kondisiku saat itu seperti yang Allah kisahkan, terasa sempit jiwaku dan bumi yang ku pijak seakan tak kukenali lagi.

Tiba-tiba aku mendengar seseorang berteriak: "Wahai, Ka'ab bin Malik! Berbahagialah!" Aku pun segera menghaturkan syukur dengan sujud kehadiratNya. Sungguh telah datang jalan keluar bagi kami. Rasulullah telah mengumumkan kepada para sahabat setelah shalat Shubuh. Allah telah menerima taubat kami.

Orang-orang berbondong-bondong menemui kami dan mengekspresikan kegembiraan mereka atas berita ini. Sungguh tak terlukiskan kebahagiaanku saat itu. Aku memberikan dua baju yang kukenakan kepada laki-laki yang datang membawa kabar gembira itu. Padahal saat itu, aku tidak memiliki baju selain kedua baju itu. Oleh karena itu, aku meminjam baju dan bergegas ke masjid menemui Rasulullah.

Saat itu Beliau dikelilingi para sahabat. Tiba-tiba Thalhah bin Ubaidillah berdiri dan berlari kecil menghampiriku, kemudian ia menggamit tanganku dan menyalamiku seraya mengucapkan selamat untukku. Sungguh, tidak ada seorang pun yang berdiri dan melakukan seperti yang ia lakukan, hingga aku pun tidak pernah melupakan kebaikannya itu.

Aku pun masuk masjid dan mengucapkan salam kepada Rasulullah. Saat itu wajah Beliau berseri-seri dan bersinar bak rembulan. Tatkala aku sudah duduk di depan Nabi, Beliau berkata: "Berbahagialah dengan hari terbaik yang engkau jumpai semenjak ibumu melahirkanmu".

"Apakah pengampunan ini darimu, wahai Rasulullah? ataukah dari Allah?" tanyaku.

Beliau menjawab, "Tidak! Pengampunan ini datang langsung dari sisi Allah."

Aku berkata kepada Beliau:

"Wahai, Rasulullah! Sungguh, sebagai cerminan nyata taubatku, aku sedekahkan hartaku di jalan Allah".

Beliau berkata, "Tahanlah sebagian hartamu untuk dirimu, karena itu lebih baik bagimu."

Aku mentaati perintah Beliau dan berkata: "Kalau begitu, aku tahan anak panahku yang kugunakan dalam perang Khaibar. Dan sungguh Allah telah menyelamatkanku dari perkara pelik ini karena kejujuran. Maka sebagai wujud taubatku pula, aku tidak akan berbicara kecuali dengan jujur". Sungguh, aku tidak mengetahui ada orang lain yang mendapat ujian kejujuran seperti Allah mengujiku. Hingga sampai saat ini, aku tidak pernah bicara dusta satu kali pun sejak berjanji kepada Rasulullah. Dan aku morion kepada Allah agar menjagaku pada sisa umurku ini".

Demikianlah sosok Ka'ab bin Malik. Seorang mujahid di jalan Allah dengan pedang dan lisannya. Sosok patriot yang memiliki kejujuran setegar batu karang. Tak terkikis oleh ujian yang menyempitkan hatinya. Dijalaninya sisa hidupnya dengan selalu menggenggam kejujuran. Pada masa tuanya, ia kehilangan penglihatannya. Dan putranya, Abdullah yang menjadi pemandu sejak Allah menghilangkan penglihatannya. Ka'ab bin Malik wafat pada masa pemerintahan Mu'awiyyah bin Abi Sufyan. Semoga rahmat dan keridhaan Allah senantiasa tercurah atas diri penyair Rasulullah ini.

Maraji:

* Adz Dzahabi, Siyar A'lamin Nubala', Muassasah Ar Risalah, Cet XI, Th. 1422 H - 2001M
* Tafsir Ibni Katsir, Dar At Thayyibah, cet I, tahun 1422 H/2002M
* Shafiyyur Rahman At Mubarak Furi, Ar Rahiqul Makhtum, cet I , tahun 1417 H/ 1997M
Selengkapnya...

Ikrimah bin Abu Jahl

Ikrimah bin Abu Jahl akan datang ke tengah-tengah anda sebagai Mukmin dan Muhajir. Karena itu, janganlah anda memaki ayahnya. Sebab memaki orang yang sudah meninggal berarti menyakiti orang yang hidup, padahal makian itu tidak terdengar oleh orang yang sudah meninggal." Demikian, Rasulullah SAW berpesan kepada kaum Muslimin berkaitan dengan ke-Islaman Ikrimah bin Abu Jahl.

Ikrimah berusia 30 tahun ketika Rasulullah SAW mulai menyampaikan da'wah Islam secara terbuka. Ia adalah seorang bangsawan Quraisy yang dihormati, kaya, dan berasal dari keturunan darah biru. Kalaulah tidak terhalang oleh sikap ayahnya yang sangat keras menentang Islam, agaknya ia telah masuk Islam lebih awal, sebagaimana putra-putra Mekkah yang berpandangan luas dan maju, seperti Saad bin Abi Waqash dan Mus'ab bin Umair.

Ikrimah dikenal sebagai pemuda Quraisy yang gagah berani dan sebagai penunggang kuda yang sangat mahir dalam peperangan. Ia memusuhi Rasulullah hanya karena didorong oleh sikap kepemimpinan bapaknya yang sangat keras memusuhi Rasulullah. Karena itu, ia turut memusuhi beliau lebih keras dan menganiaya para shahabat lebih keras, kejam, dan bengis, untuk menyenangkan hati ayahnya.

Sejak kematian ayahnya dalam Perang Badar, pandangan sikap Ikrimah terhadap kaum Muslimin berubah. Kalau dulu ia memusuhi kaum Muslimin lantaran untuk menyenangkan hati ayahnya, maka sekarang ia memusuhi Rasulullah SAW dan para shahabatnya karena dendam atas kematian ayahnya. Dan dendam itu ia lampiaskan dalam Perang Uhud.

Ketika Perang Khandaq meletus, kaum Musyrikin Quraisy mengepung kota Madinah selama berhari-hari. Ikrimah bin Abu Jahl tak sabar dengan pengepungan yang membosankan itu. Lalu ia nekad menyerbu benteng kaum Muslimin. Usahanya sia-sia, bahkan merugikannya hingga ia lari terbirit-birit di bawah hujan panah kaum Muslimin.

Ketika Fathu Makkah (penaklukan kota Mekkah), kaum Quraisy memutuskan tidak akan menghalangi Rasulullah dan para shahabatnya masuk kota Mekkah. Tapi Ikrimah dan beberapa orang pengikutnya tak mengindahkan keputusan itu. Mereka menyerang pasukan besar kaum Muslimin. Namun, serangan itu dapat dipatahkan oleh Panglima Khalid bin Walid. Ikrimah melarikan diri ke Yaman lantaran takut dihukum mati oleh Rasulullah.

Ummu Hakim, istri Ikrimah, menemui Rasulullah SAW untuk meminta grasi. Rasulullah memenuhi permohonan itu. Maka Ummu Hakim pun berangkat menyusul Ikrimah. Setelah bertemu dengan Ikrimah di tempat pengasingannya, Ummu Hakim membujuk suaminya agar mau kembali ke Mekkah. Ummu Hakim juga mengabarkan bahwa Rasulullah SAW telah mengampuni dan memaafkannya.

Ketika Ikrimah dan istrinya hampir tiba di kota Mekkah, Rasulullah SAW berkata kepada para shahabatnya, "Ikrimah bin Abu Jahl akan datang ke tengah-tengah anda sebagai Mukmin dan Muhajir. Karena itu, janganlah anda memaki ayahnya. Sebab memaki orang yang sudah meninggal berarti menyakiti orang yang hidup, padahal makian itu tidak terdengar oleh orang yang sudah meninggal."

Ketika Ikrimah dan istrinya memasuki majelis Rasulullah SAW, beliau menyambutnya dengan sangat gembira. Ketika Rasulullah duduk kembali, Ikrimah duduk pula di hadapan beliau dan mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda ke-Islamannya. Setelah itu, Ikrimah memohon kepada Rasulullah untuk mendoakannya agar Allah SWT mengampuni dosa-dosa dan kesalahannya yang telah lalu. Rasulullah pun memenuhi permintaan Ikrimah itu.

Maka wajah Ikrimah pun berseri-seri. Kemudian ia berkata, "Demi Allah, ya Rasulullah! Tak satu sen pun dana yang telah saya keluarkan untuk memberantas agama Allah di masa lalu, melainkan mulai saat ini akan saya tebus dengan dengan mengorbankan hartaku berlipat ganda untuk menegakkan agama Allah. Dan tak seorang pun kaum Muslimin yang telah gugur di tanganku, melainkan akan kutebus dengan membunuh kaum musyrikin berlipat ganda, demi untuk menegakkan agama Allah."

Sejak itu, Ikrimah menggabungkan diri ke dalam barisan da'wah sebagai anggota pasukan berkuda yang cekatan dan gagah berani di medan perang. Disamping itu, Ikrimah juga menjadi seorang ahli ibadah dan pembaca Al-Qur'an yang tekun di masjid. [masjid_annahl]
Selengkapnya...

Hudzaifah Ibnul Yaman

"Jika engkau ingin digolongkan kepada Muhajirin, engkau memang Muhajir. Dan jika engkau ingin digolongkan kepada Anshar, engkau memang seorang Anshar. Pilihlah mana yang engkau sukai. "

Itulah kalimat yang diucapkan Rasulullah SAW kepada Hudzaifah Ibnul Yaman, ketika bertemu pertama kali di Mekah. Mengenai pilihan itu, apakah beliau tergolong Muhajirin atau Anshar ada kisah tersendiri bagi Hudzaifah.

Al-Yaman, ayah Hudzaifah, adalah orang Mekah dari Bani Abbas. Karena sebuah utang darah dalam kaumnya, dia terpaksa menyingkir dari Mekah ke Yastrib (Madinah). Di sana dia meminta perlindungan kepada Bani Abd Asyhal dan bersumpah setia pada mereka untuk menjadi keluarga dalam persukuan Bani Abd Asyhal. Ia kemudian menikah dengan anak perempuan suku Asyhal. Dari perkawinannya itu, lahirlah anaknya, Hudzaifah. Maka, hilanglah halangan yang menghambat Al-Yaman untuk memasuki kota Mekah. Sejak itu dia bebas pulang pergi antara Mekah dan Madinah. Meski demikian, dia lebih banyak tinggal dan menetap di Madinah.

Ketika Islam memancarkan cahanya ke seluruh Jazirah Arab, Al-Yaman termasuk salah seorang dari sepuluh orang Bani Abbas yang berkeinginan menemui Rasulullah SAW dan menyatakan keislamannya. Ini semua terjadi sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Sesuai dengan garis keturunan yang berlaku di negeri Arab, yaitu garis keturunan bapak (patriach), maka Hudzaifah adalah orang Mekah yang lahir dan dibesarkan di Madinah.

Hudzaifah Ibnul Yaman lahir di rumah tangga muslim, dipelihara dan dibesarkan dalam pangkuan kedua ibu bapaknya yang telah memeluk agama Allah, sebagai rombongan pertama. Karena itu, Hudzaifah telah Islam sebelum dia bertemu muka dengan Rasulullah SAW.

Kerinduan Hudzaifah hendak bertemu dengan Rasulullah SAW memenuhi setiap rongga hatinya. Sejak masuk Islam, dia senantiasa menunggu-nunggu berita, dan nyinyir bertanya tentang kepribadian dan ciri-ciri beliau. Bila hal itu dijelaskan orang kepadanya, makin bertambah cinta dan kerinduannya kepada Rasulullah.

Pada suatu hari dia berangkat ke Mekah sengaja hendak menemui Rasulullah. Setelah bertemu, Hudzaifah bertanya kepada beliau, "Apakah saya ini seorang Muhajir atau Anshar, ya Rasulullah?"

Jawab Rasulullah, "Jika engkau ingin disebut Muhajir engkau memang seorang muhajir dan jika engkau ingin disebut Anshar, engkau memang orang Anshar. Pilihlah mana yang engkau sukai."

Hudzaifah menjawab, "Aku memilih Anshar, ya Rasulullah!"

Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, Hudzaifah selalu mendampingi beliau bagaikan seorang kekasih. Hudzaifah turut bersama-sama dalam setiap peperangan yang dipimpinnya, kecuali dalam Perang Badar. Mengapa dia tidak ikut dalam Perang Badar? Soal ini pernah diceritakan oleh Hudzaifah. Ia berkata, "Yang menghalangiku untuk turut berperang dalam peperangan Badar karena saat itu aku dan bapakku sedang pergi keluar Madinah. Dalam perjalanan pulang, kami ditangkap oleh kaum kafir Quraisy seraya bertanya, "Hendak ke mana kalian?"

Mereka menjawab, "Ke Madinah!"

Mereka bertanya, "Kalian hendak menemui Muhammad?"

"Kami hendak pulang ke rumah kami di Madinah," jawab kami.

Mereka tidak bersedia membebaskan kami, kecuali dengan perjanjian bahwa kami tidak akan membantu Muhammad, dan tidak akan memerangi mereka. Sesudah itu barulah kami dibebaskannya.

Setelah bertemu dengan Rasulullah SAW, kami menceritakan kepada beliau peristiwa tertangkapnya kami oleh kaum kafir Quraisy dan perjanjian dengan mereka. Lalu, kami bertanya kepada beliau tentang apa yang harus kami lakukan.

Rasulullah menjawab, "Batalkan perjanjian itu, dan marilah kita mohon pertolongan Allah untuk mengalahkan mereka!"

Dalam Perang Uhud, Hudzaifah ikut memerangi kaum kafir bersama dengan ayahnya, Al-Yaman. Dalam perang itu, Hudzaifah mendapat cobaan besar. Dia pulang dengan selamat, tetapi bapaknya syahid oleh pedang kaum muslimin sendiri, bukan kaum musyrikin.

Berikut kisahnya, pada hari terjadinya Perang Uhud, Rasulullah SAW menugaskan Al-Yaman (ayah Hudzaifah) dan Tsabit bin Waqsy mengawal benteng tempat para wanita dan anak-anak, karena keduanya sudah lanjut usia. Ketika perang memuncak dan berkecamuk dengan sengit, Al-Yaman berkata kepada temannya, "Bagaimana pendapatmu, apalagi yang harus kita tunggu. Umur kita tinggal seperti lamanya kita menunggu keledai minum dengan puas. Kita mungkin saja mati hari ini atau besok. Apakah tidak lebih baik bila kita ambil pedang, lalu menyerbu ke tengah-tengah musuh membantu Rasulullah. Mudah-mudahan Allah memberi kita rezeki menjadi syuhada bersama-sama dengan nabi-Nya." Keduanya lalu mengambil pedangnya dan terjun ke medan pertempuran.

Tsabit bin Waqsy memperoleh kemuliaan di sisi Allah. Dia syahid di tangan kaum musyrikin. Tetapi, Al-Yaman menjadi sasaran pedang kaum muslimin sendiri, karena mereka tidak mengenalnya. Hudzaifah berteriak, "Itu bapakku …! Itu bapakku …!" Tetapi sayang, tidak seorang pun yang mendengar teriakannya, sehingga bapaknya jatuh tersungkur oleh pedang teman-temannya sendiri. Hudzaifah tidak berkata apa-apa, kecuali hanya berdoa kepada Allah, "Semoga Allah Taala mengampuni kalian, Dia Maha Pengasih dari yang paling pengasih."

Rasulullah memutuskan untuk membayar tebusan darah (diyat) bapak Hudzaifah kepada anaknya, Hudzaifah. Hudzaifah berkata, "Bapakku menginginkan supaya dia mati syahid. Keinginannya itu kini telah dicapainya. Wahai Allah! Saksikanlah, sesungguhnya aku menyedekahkan diyat darah bapakku kepada kaum muslimin."

Maka, dengan pernyataannya itu, penghargaan Rasulullah terhadap Hudzaifah bertambah tinggi dan mendalam.

Rasulullah SAW menilai dalam pribadi Hudzaifah Ibnul Yaman terdapat tiga keistimewaan yang menonjol. Pertama, cerdas, sehingga dia dapat meloloskan diri dalam situasi yang serba sulit. Kedua, cepat tanggap, berpikir cepat, tepat dan jitu, yang dapat dilakukannya setiap diperlukan. Ketiga, cermat memegang rahasia, dan berdisplin tinggi, sehingga tidak seorang pun dapat mengorek yang dirahasiakannya.

Sudah menjadi salah satu kebijaksanaan Rasulullah, berusaha menyingkap keistimewaan para sahabatnya dan menyalurkannya sesuai dengan bakat dan kesanggupan yang terpendam dalam pribadi masing-masing mereka. Yakni, menempatkan seseorang pada tempat yang selaras.

Kesulitan terbesar yang dihadapi kaum muslimin di Madinah ialah kehadiran kaum Yahudi munafik dan sekutu mereka, yang selalu membuat isu-isu dan muslihat jahat, yang selalu dilancarkan mereka terhadap Rasulullah dan para sahabat. Untuk menghadapi kesulitan ini, Rasulullah mempercayakan suatu yang sangat rahasia kepada Hudzaifah Ibnul Yaman, dengan memberikan daftar nama orang munafik itu kepadanya. Itulah suatu rahasia yang tidak pernah bocor kepada siapa pun hingga sekarang, baik kepada para sahabat yang lain atau kepada siapa saja. Dengan mempercayakan hal yang sangat rahasia itu, Rasulullah menugaskan Hudzaifah memonitor setiap gerak-gerik dan kegiatan mereka, untuk mencegah bahaya yang mungkin dilontarkan mereka terhadap Islam dan kaum muslimin. Karena inilah, Hudzaifah Ibnul Yaman digelari oleh para sahabat dengan Shaahibu Sirri Rasulullah (Pemegang Rahasia Rasulullah).

Suatu ketika, Rasulullah memerintahkan Hudzaifah melaksanakan suatu tugas yang amat berbahaya, dan membutuhkan keterampilan luar biasa untuk mengatasinya. Karena itulah, beliau memilih orang yang cerdas, tanggap, dan berdisiplin tinggi. Peristiwa itu terjadi pada puncak peperangan Khandaq. Kaum muslimin telah lama dikepung rapat oleh musuh, sehingga mereka merasakan ujian yang berat, menahan penderitaan yang hampir tidak tertangguhkan, serta kesulitan-kesulitan yang tidak teratasi. Semakin hari situasi semakin gawat, sehingga menggoyahkan hati yang lemah. Bahkan, menjadikan sementara kaum muslimin berprasangka yang tidak wajar terhadap Allah SWT.

Namun begitu, pada saat kaum muslimin mengalami ujian berat dan menentukan itu, kaum Quraisy dan sekutunya yang terdiri dari orang-orang musyrik tidak lebih baik keadaannya daripada yang dialami kaum muslimin. Karena murka-Nya, Allah menimpakan bencana kepada mereka dan melemahkan kekuatannya. Allah meniupkan angin topan yang amat dahsyat, sehingga menerbangkan kemah-kemah mereka, membalikkan periuk, kuali, dan belanga, memadamkan api, menyiramkan muka mereka dengan pasir dan menutup mata dan hidung mereka dengan tanah.

Pada situasi genting dalam sejarah setiap peperangan, pihak yang kalah ialah yang lebih dahulu mengeluh dan pihak yang menang ialah yang dapat bertahan menguasai diri melebihi lawannya. Dalam detik-detik seperti itu, amat diperlukan informasi secepatnya mengenai kondisi musuh, untuk menetapkan penilaian dan landasan dalam mengambil putusan melalui musyawarah.

Ketika itulah Rasulullah membutuhkan keterampilan Hudzaifah Ibnul Yaman untuk mendapatkan info-info yang tepat dan pasti. Maka, beliau memutuskan untuk mengutus Hudzaifah ke jantung pertahanan musuh, dalam kegelapan malam yang hitam pekat. Marilah kita dengarkan dia bercerita, bagaimana dia melaksanakan tugas maut tersebut.

Hudzaifah berkata, "Malam itu kami (tentara muslimin) duduk berbaris, Abu Sufyan dengan dua baris pasukannya kaum musyrikin Mekah mengepung kami sebelah atas. Orang-orang Yahudi Bani Quraizhah berada di sebelah bawah. Yang kami khawatirkan ialah serangan mereka terhadap para wanita dan anak-anak kami. Malam sangat gelap. Belum pernah kami alami gelap malam yang sepekat itu, sehingga tidak dapat melihat anak jari sendiri. Angin bertiup sangat kencang, sehingga desirannya menimbulkan suara bising yang memekakkan. Orang-orang lemah iman, dan orang-orang munafik minta izin pulang kepada Rasulullah, dengan alasan rumah mereka tidak terkunci. Padahal, sebenarnya rumah mereka terkunci.

Setiap orang yang minta izin pulang diberi izin oleh Rasulullah, tidak ada yang dilarang atau ditahan beliau. Semuanya keluar dengan sembunyi-sembunyi, sehingga kami yang tetap bertahan hanya tinggal 300 orang.

Rasulullah berdiri dan berjalan memeriksa kami satu per satu. Setelah beliau sampai di dekatku, aku sedang meringkuk kedinginan. Tidak ada yang melindungi tubuhku dari udara dingin yang menusuk-nusuk, selain sehelai sarung butut kepunyaan istriku, yang hanya dapat menutupi hingga lutut. Beliau mendekatiku yang sedang menggigil, seraya bertanya, "siapa ini!"

"Hudzaifah!" jawabku.

"Hudzaifah!” tanya Rasulullah minta kepastian. “Aku merapat ke tanah, sulit berdiri karena sangat lapar dan dingin.”

"Betul, ya Rasulullah!" jawabku.

"Ada beberapa peristiwa yang dialami musuh. Pergilah engkau ke sana dengan sembunyi-sembunyi untuk mendapatkan data-data yang pasti, dan laporkan kepadaku segera …!" kata beliau memerintah.

Aku bangun dengan ketakutan dan kedinginan yang sangat menusuk. Maka, Rasulullah berdoa, "Wahai Allah! lindungilah dia, dari hadapan, dari belakang, kanan, kiri, atas, dan dari bawah."

Demi Allah! Sesudah Rasulullah SAW selesai berdoa, ketakutan yang menghantui dalam dadaku dan kedinginan yang menusuk-nusuk tubuhku hilang seketika, sehingga aku merasa segar dan perkasa. Tatkala aku memalingkan diriku dari Rasulullah, beliau memanggilku dan berkata, "Hai, Hudzaifah! sekali-kali jangan melakukan tindakan yang mencurigakan mereka sampai tugasmu selesai, dan kembali kepadaku!"

Jawabku, "Saya siap, ya Rasulullah!"

Lalu, aku pergi dengan sembunyi-sembunyi dan hati-hati sekali, dalam kegelapan malam yang hitam kelam. Aku berhasil menyusup ke jantung pertahanan musuh dengan berlagak seolah-olah aku anggota pasukan mereka. Belum lama aku berada di tengah-tengah mereka, tiba-tiba terdengar Abu Sufyan memberi komando.

Ia berkata, "Hai, pasukan Quraisy! dengarkan aku berbicara kepada kamu sekalian. Aku sangat khawatir, hendaknya pembicaraanku ini jangan sampai terdengar oleh Muhammad. Karena itu, telitilah lebih dahulu setiap orang yang berada di samping kalian masing-masing!"

Mendengar ucapan Abu Sufyan, aku segera memegang tangan orang yang di sampingku seraya bertanya, "Siapa kamu?" Jawabnya, "Aku si Anu, anak si Anu!"

Sesudah dirasanya aman, Abu Sufyan melanjutkan bicaranya, "Hai, pasukan Quraisy! demi Tuhan! Sesungguhnya kita tidak dapat bertahan di sini lebih lama lagi. Hewan-hewan kendaraan kita telah banyak yang mati. Bani Quraizhah berkhianat meninggalkan kita. Angin topan menyerang kita dengan ganas seperti kalian rasakan. Karena itu, berangkatlah kalian sekarang dan tinggalkan tempat ini. Sesungguhnya aku sendiri akan berangkat."

Selesai berkata demikian, Abu Sufyan kemudian mendekati untanya, melepaskan tali penambat, lalu dinaiki dan dipukulnya. Unta itu bangun dan Abu Sufyan langsung berangkat. Seandainya Rasulullah tidak melarangku melakukan suatu tindakan di luar perintah sebelum datang melapor kepada beliau, sungguh telah kubunuh Abu Sufyan dengan pedangku.

Aku kembali ke pos komando menemui Rasulullah. Kudapati beliau sedang salat di tikar kulit, milik salah seorang istrinya. Tatkala beliau melihatku, didekatkannya kakinya kepadaku dan diulurkannya ujung tikar menyuruhku duduk di dekatnya. Lalu, kulaporkan kepada beliau segala kejadian yang kulihat dan kudengar. Beliau sangat senang dan bersuka hati, serta mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT.

Hudzaifah Ibnul Yaman sangat cermat dan teguh memegang segala rahasia mengenai orang-orang munafik selama hidupnya, sampai kepada seorang khalifah sekalipun yang mencoba mengorek rahasia tetap ia tidak mau membocorkannya. Sampai-sampai khalifah Umar bin Khathtab r.a. ada orang muslim yang meninggal, dia bertanya, "Apakah Hudzaifah turut menyalatkan jenazah orang itu ?" Jika mereka menjawab, "Ada," beliau turut menyalatkannya.

Suatu ketika, Khalifah Umar pernah bertanya kepada Hudzaifah dengan cerdik,"Adakah di antara pegawai-pegawaiku orang munafik?"

Jawab Hudzaifah,"Ada seorang!"

"Tolong tunjukkan kepadaku siapa?" kata Umar.

Hudzaifah menjawab, "Maaf Khalifah, saya dilarang Rasulullah mengatakannya."

"Seandainya kautunjukkan, tentu Khalifah akan langsung memecat pegawai yang bersangkutan," kata Hudzaifah bercerita.

Namun begitu, amat sedikit orang yang mengetahui bahwa Hudzaifah Ibnul Yaman sesungguhnya adalah pahlawan penakluk Nahawand, Dainawar, Hamadzan, dan Rai. Dia membebaskan kota-kota tersebut bagi kaum muslimin dari genggaman kekuasaan Persia yang menuhankan berhala. Hudzaifah juga termasuk tokoh yang memprakarsai keseragaman mushhaf Alquran, sesudah kitabullah itu beraneka ragam coraknya di tangan kaum muslimin. Dan Hudzaifah, hamba Allah yang sangat takut kepada Allah, dan sangat takut akan siksanya.

Ketika Hudzaifah sakit keras menjelang ajalnya tiba, beberapa orang sahabat datang mengunjunginya pada tengah malam. Hudzaifah bertanya kepada mereka,"Pukul berapa sekarang?"

Mereka menjawab, "Sudah dekat Subuh."

Hudzaifah berkata, "Aku berlindung kepada Allah dari Subuh yang menyebabkan aku masuk neraka."

Ia bertanya kembali, "Adakah tuan-tuan membawa kafan?"

Mereka menjawab, "Ada."

Hudzaifah berkata, "Tidak perlu kafan yang mahal. Jika diriku baik dalam penilaian Allah, Dia akan menggantinya untukku dengan kafan yang lebih baik. Dan, jika aku tidak baik dalam pandangan Allah, Dia akan menanggalkan kafan itu dari tubuhku." Sesudah itu dia berdoa kepada Allah, "Wahai Allah! sesungguhnya Engkau tahu, aku lebih suka fakir daripada kaya, aku lebih suka sederhana daripada mewah, aku lebih suka mati daripada hidup."

Sesudah berdoa rohnya berangkat. Seorang kekasih Allah kembali kepada Allah dalam kerinduan. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya. Wallahu a'lam bish-shawab.
Selengkapnya...